Tiga hari sudah aku meninggalkan Cikarang. Kangen Ibu yang sendiri di Surabaya, Senin lalu aku meluncur ke Surabaya. Hari ini hari ke tiga. Giliran kangen sama anak-anak dan istri.
Karena aku punya murid bimbel di EMC, maka aku serahkan ke anak-anakku yang pas libur sekolah. Sambil ngajarin mereka betapa nikmatnya mengajar itu.
Mungkin karena nerveous maka anakku selalu SMS ketika ada soal yang gak bisa dimengerti.
Siang ini untuk menyapa mereka aku mampir ke warnet di Kebraon. Kubuka facebook dan kudapati anakku sedang online ketika tiba-tiba anakku menyapa lewat chatting box. Tanya-tanya kabar, melepas kangen sampai ngomongin matematika.
Berikut ini chattingan kami:
Ooh... di warnet sejam cukup lumayan untuk tombo kangen.
Kamis, 06 Januari 2011
Sabtu, 01 Januari 2011
Sampah Tahun Baru
Sebenarnya ini tidak hanya terjadi hari ini 1 Januari 2011.
Setiap malam Ahad, para muda-mudi menghabiskan malam-malamnya di jalur hijau sepanjang Jalan Kedasih Raya ini. Tak hanya muda-mudi yang berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, tapi juga bapak-ibu-anak yang bosen di rumah.
Di tempat ini meraka ngobrol, main gitar, pacaran -entah ngapain- dan makan minum. Lalu sisa makanan dan bungkus makanan ditinggalkan begitu saja. Esoknya jadi pemandangan yang tidak mengenakkan mata memandang. Sepanjang perjalanan dari Ruko Anggrek sampai Wisma Mattel, sampah ini menjadi hiasan buruk jalur hijau.
Dan tampaknya pengembang memfasilitasi ini. Buktinya tak ada teguran, tak ada peraturan. Yang ada malah disediakan tukang sapu yang membersihkan sampah mereka pada pagi hingga siang keesokan harinya.
Puncaknya adalah pada malam tahun baru tadi malam.
Para pemuda dan keluarga yang memperingati pergantian tahun ini, menghabiskan seluruh jam-jamnya sejak jam delapan malam di tempat ini. Mereka meluapkan kegembiraan -entah apa yang digembirakan- di tempat ini. Dan mereka meluapkan syahwatnya (astaghfirullah) juga di sini.
Saya sendiri kemarin bersama keluarga sedang menengok ibu mertua di Tangerang. Jam 10 malam mau masuk ke Cikarang Baru melalui pintu Jababeka tidak diperkenankan. Hanya motor yang boleh masuk. Saya diarahkan masuk melalui pintu 10 di Kalimalang.
Seusai mabit di Masjid Mekar Indah, seorang Ustadz yang mengimami Qiyamul Lail, yang tiba di tempat ini sekitar jam 2 malam mengatakan, bahwa beliau menyaksikan banyak motor di pinggir jalan, tapi orangnya entah di mana. Dan di sepanjang jalur hijau banyak remaja muda-mudi sedang asyik dibuai nafsu syetaniahnya.
Membaca status facebook seorang teman: "Tahun baru, berarti sisa umur kita semakin sedikit. Semoga sisa usia ini lebih barokah."
Timbul pertanyaan: Pesta semalam di manakah letak keberkahannya? Pasti tidak ada. Namun, kenapa harus disambut dengan tiupan terompet, tepuk tangan, ketawa cekakaan, menghabiskan waktu percuma, apalagi sampai berkhalwat.
Siapakah yang sukses meninggalkan tahun lama dan memasuki tahun baru. Kenapa harus dirayakan dengan gegap gempita, kembang api, petasan dan tiupan terompet, juga band dan dangdutan?
Banyak diantara kita ingin hidup berkah, bergelimang rahmat Allah. Tapi kenapa justru mengawali tahun baru ini dengan menyia-nyiakan waktu untuk berbagai kegiatan yang justru menjauhkan diri dari rahmat Allah?
Saya gak habis pikir, kenapa saudara-saudaraku di sepanjang jalan ini sedemikian mudahnya melepaskan akal sehatnya demi sebuah kegiatan yang tak jelas manfaatnya?
Ya, Allah.... jauhkan kami dari yang demikian.
Ya Allah, bimbing kami menjalani setiap detik sisa-sisa waktuku di kehidupan fana' ini bermakna dan produktif mendulang pahala dan kasih sayang-Mu, sehingga -dengan rahmat-Mu, ya Allah- itu bisa menjadi bekal kehidupan abadi yang penuh kenikmatan di akhirat nanti.
Amiin Ya Rabbal 'Alamin.
Setiap malam Ahad, para muda-mudi menghabiskan malam-malamnya di jalur hijau sepanjang Jalan Kedasih Raya ini. Tak hanya muda-mudi yang berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, tapi juga bapak-ibu-anak yang bosen di rumah.
Di tempat ini meraka ngobrol, main gitar, pacaran -entah ngapain- dan makan minum. Lalu sisa makanan dan bungkus makanan ditinggalkan begitu saja. Esoknya jadi pemandangan yang tidak mengenakkan mata memandang. Sepanjang perjalanan dari Ruko Anggrek sampai Wisma Mattel, sampah ini menjadi hiasan buruk jalur hijau.
Dan tampaknya pengembang memfasilitasi ini. Buktinya tak ada teguran, tak ada peraturan. Yang ada malah disediakan tukang sapu yang membersihkan sampah mereka pada pagi hingga siang keesokan harinya.
Seusai mabit di Masjid Mekar Indah, seorang Ustadz yang mengimami Qiyamul Lail, yang tiba di tempat ini sekitar jam 2 malam mengatakan, bahwa beliau menyaksikan banyak motor di pinggir jalan, tapi orangnya entah di mana. Dan di sepanjang jalur hijau banyak remaja muda-mudi sedang asyik dibuai nafsu syetaniahnya.
Membaca status facebook seorang teman: "Tahun baru, berarti sisa umur kita semakin sedikit. Semoga sisa usia ini lebih barokah."
Timbul pertanyaan: Pesta semalam di manakah letak keberkahannya? Pasti tidak ada. Namun, kenapa harus disambut dengan tiupan terompet, tepuk tangan, ketawa cekakaan, menghabiskan waktu percuma, apalagi sampai berkhalwat.
Siapakah yang sukses meninggalkan tahun lama dan memasuki tahun baru. Kenapa harus dirayakan dengan gegap gempita, kembang api, petasan dan tiupan terompet, juga band dan dangdutan?
Banyak diantara kita ingin hidup berkah, bergelimang rahmat Allah. Tapi kenapa justru mengawali tahun baru ini dengan menyia-nyiakan waktu untuk berbagai kegiatan yang justru menjauhkan diri dari rahmat Allah?
Saya gak habis pikir, kenapa saudara-saudaraku di sepanjang jalan ini sedemikian mudahnya melepaskan akal sehatnya demi sebuah kegiatan yang tak jelas manfaatnya?
Ya, Allah.... jauhkan kami dari yang demikian.
Ya Allah, bimbing kami menjalani setiap detik sisa-sisa waktuku di kehidupan fana' ini bermakna dan produktif mendulang pahala dan kasih sayang-Mu, sehingga -dengan rahmat-Mu, ya Allah- itu bisa menjadi bekal kehidupan abadi yang penuh kenikmatan di akhirat nanti.
Amiin Ya Rabbal 'Alamin.
Kamis, 18 November 2010
Qurban, Sate dan Gule Kambing
| Semoga ketaqwaan kita sampai kepada Allah |
Idul Adha identik dengan daging kambing dan sapi ataupun unta. Maka di facebook banyak yang statusnya berisi tentang sate, tongseng dan gule kambing. Pesta makan-makan dan bakar-bakar. Panggang kepala sapi dan kambing. Sop buntut dan kikil.
Kalau ada yang bernuansa lain, itu adalah tentang kepedulian sosial dengan membagi-bagikan daging kurban ke fakir miskin, yatim piatu dan para duafa lainnya.
Sebentar .... saya berhenti menulis dulu. Di TV sedang ada berita orang-orang miskin berebut daging kurban di depan sebuah kantor sebuah partai politik. Para perempuan tua dan anak-anak tergencet. Di sana-sini hiruk pikuk suara tangis. Sementara dari belakang sana ratusan massa terus mendorong menggencet orang-orang yang sudah berada di depan pagar tinggi yang cuma dibuka 80 cm dan dijaga satpam. Wajah kemiskinan di negeriku nampak nyata pada saat-saat seperti ini.
Meski sayangnya belum ketemu cara yang memanusiakan, Idul Adha jadi identik dengan kegiatan sosial. Aspek ruhiyahnya terdegrasi. Aspek hablumminallah-nya terpinggirkan. Tertutup dengan aspek sosial, kepedulian dan silaturahim warga sebuah perumahan. Tidak salah memang, hanya saja makna ruhiyahnya yang palig penting kok justru terlupakan.
Padahal penyembelihan Ismail a.s. tak sekedar pengorbangan, tapi juga kepatuhan kepada Allah. Kepatuhan kepada Allah adalah segala-galanya. Mengalahkan cinta kepada anak. Mengalahkan cinta Ibrahim a.s. kepada anak satu-satunya –saat itu, yaitu Ismail.
Ketika cinta kepada anak dan istri berlebihan, sering mengalahkan cinta kita kepada Allah. Ketika cinta kepada harta berlebihan, sering menyita waktu kita untuk tak bersimpuh di haribaan Allah. Kecuali pada sisa-sisa waktu yang sangat sedikit. Ketika harta menjadi tujuan, maka rambu-rambu Allah dan Rasul-Nya pun tak dihiraukan. Ketika kedudukan menjadi sasaran, sering cara apapun dihalalkan. Uang menjadi tuhan baru.
Ketika dalam kondisi demikian, tiba-tiba Allah memanggil, adakah kita meninggalkan semua itu demi memenuhi panggilan-Nya? Ketika kita sedang asik dan fokus pada proyek kita, adakah kita mau meninggalkannya demi memenuhi rambu-rambu-Nya?
Tak ada sekutu bagi-Nya.
Tak ada yang lebih penting selain panggilan-Nya.
Tak ada yang berhak dituhankan selain Dia.
Itulah sejatinya makna berkurban yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s. Tauhid, mengesakan Allah. Dialah satu-satunya yang patut dipatuhi, dicintai, dirindui. Hanya Allahlah yang kepadanya kita memasrahkan diri kita untuk didominasi oleh-Nya. Sehingga kita meninggalkan apapun yang dilarang-Nya. Dan mengerjakan apapun yang diperintahkan-Nya....... Ya, apapun!
Dengan pemahaman itulah maka kita maklum kenapa Nabi Ibrahim a.s. melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail a.s. Karena dia mau menyembelih kecintaannya kepada anaknya demi kecintaannya kepada Allah saja.
Dengan pemahaman itulah kita bisa memahami kenapa Ismail a.s. menyerahkan dirinya dan mempersilakan ayahnya Ibrahim a.s. untuk menyembelih dirinya demi memenuhi perintah Allah. Karena dia mau memupus kecintaannya kepada diri sendiri, demi kecintaannya kepada Allah saja.
”Ayah, engkau akan saksikan, insya Allah aku termasuk orang yang sabar.” katanya. Sabar dalam menjalankan perintah Allah. Seberat apapun. Betapapun iblis, setan jin dan manusia menghalanginya.
Jadi Idul Adha bukan sekedar berbagi daging kepada para duafa. Apalagi pesta sate, tongseng, dan gulai kambing. Idul Adha adalah kembali mengesakan Allah. Tauhid. Demi memantaskan wajah kita menjumpai wajah-Nya.
Fa man kaana yarju liqo-a robbihi, fal ya’mal amalan sholihan wa la yusyrik bi ’ibaadati robbihii akhada. ”Barangsiapa ingin berjumpa dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal sholeh dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya.”
Cikarang Baru, 17 November 2010/11 Dzulhijjah 1431 H
Langganan:
Postingan (Atom)