Rabu, 30 November 2011

Youtube Vs Polisi

Anda mengalami masalah kriminalitas. Atau menyaksikan tindakan kriminalitas? Laporkan ke Youtube!
Prosedurnya mudah, tidak perlu keluar rumah, tak perlu isi formulir, tak perlu dicurigai, tak perlu diinterogasi, tak perlu dibuatkan berita acara, tak perlu tanda tangan. Asal ada koneksi internet, cukup bikin akun Youtube. Maka setiap saat kita bisa memanfaatkannya. Tentu saja Anda harus punya materi untuk di upload ke Youtube. Ada rekaman digital.

Polisi terus kerjanya apa, dong?

Ya, polisi tinggal kebakaran jenggot aja –kalau emang punya jenggot, kebanyakan sih polisi klimis-klimis, jadi gak bakalan kebakaran jenggot. Adanya paling kumis, yang bisa menegakkan bulu roma rakyat. Alias menakutkan. Oke,... kebakaran apa kek, yang penting setelah rame di publikasikan, maka polisi jadi kerja, menindaklanjuti keresahan rakyat. Tapi kalau tidak ada aduan, apakah polisi akan bekerja? Seharusnya sih tidak. Tapi apakah aduan secara massal melalui Youtube, lalu diberitakan oleh koran, TV, media online, tidak lebih dari cukup sebagai aduan yang harus ditindaklanjuti.

Mestinya memang demikian. Tapi kenyataan memang sering berbeda dengan harapan. Setidaknya di negara ini.

Di lingkungan rumah ada spanduk yang dikeluarkan instansi kepolisian. Bunyinya, “Awas Pencuri Ranmor Ada di Sekitar Anda. Waspadalah!” Membaca spanduk ini, saya tersenyum kecut. Lha, kalau polisi sudah tau ada pencuri, ya tangkap dong. Masak Cuma nyuruh kita waspada doang. Kalau kecolongan, meskipun sudah waspada gimana, dong?
(“Ya, lapor dong, biar dapat surat untuk dipakai lapor ke leasing! Biar bisa dapat ganti motor baru.”)

Lapor ke polisi memang –kebanyakan- hasilnya tak lebih dari selembar berita acara doangan. Jadi teringat saat saya kecopetan di bis antar kota antar propinsi dalam perjalanan Yogya – Jakarta. Saya sadar telah kecopetan ketika habis istirahat makan di Subang. Melihat saya bokek, teman duduk saya, mahasiswa Jepang yang sedang kuliah di UGM, kasih uang saya untuk pegangan.

Selain uang, di dompet juga ada kartu ATM, SIM, kartu Jamsostek dll.  Sampai di Cikarang, saya harus blokir semua kartu ATM. Dan melapor ke Polsek. Tujuannya agar saya bisa menjadapatkan berita acara, dan saya bisa mendapatkan ATM baru dari bank.

Ke kantor polisi saya ajak anak saya yang waktu itu masih SD. Dalam perjalanan pulang dia bertanya, “Ayah, emangnya kalau lapor polisi, dompet ayah bisa kembali?” Saya lupa jawaban saya persisnya kayak apa. Tapi saya ingat waktu itu saya jawab dengan jawaban positif demi mengajarkan anak saya agar tidak membenci polisi di usia terlalu dini.

Meskipun dompet itu tak bakalan kembali. Meskipun jawaban itu berarti saya bohong kepada anak saya.

Beberapa bulan yang lalu rumah adik saya disatroni maling. Kerugian material lebih dari 40 juta. Lagi-lagi melapor polisi ternyata cuma untuk dapat selembar berita acara doang. Sampai kini tak ada kabar berita lagi. Menyisir sidik jari dan menangkap penjahat  cuma ada di film. Setelah itu adik saya trauma dan mengganti semua kunci rumah, dan memberi teralis pada setiap lubang menganga menuju masuk rumahnya.

Mundur jauh ke belakang, saya pernah mengalami penipuan. Ketika sadar, saya langsung melapor ke polsek terdekat. Walhasil setiap pekan pada beberapa pekan kemudian saya harus mampir ke polsek tersebut untuk mengetahui perkembangannya. Dan setiap pekan itu pula saya harus mengeluarkan uang operasional bagi ‘penyidik’. Sampai akhirnya saya capek. Dan tak ada lagi kabar beritanya. Masalahpun saya lupakan dan ikhlaskan. Meskipun sampai sekarang tak pernah lupa dan tak pernah ikhlas.

Kini zaman lebih modern, ada rumah pake CCTV, ada hape untuk merekam kejadian. Lalu ada Youtube untuk menyebar informasi. Sementara polisi belum berubah cara kerjanya. Padahal teknologi informasi semakin pesat kemajuannya. Maka polisi jadi semakin tampak tertinggal profesionalismenya. Maka tak aneh, jika pemilik rumah yang disatroni pencuri necis, yang memiliki rekaman CCTV tak mau lagi melapor ke polisi. Karena "melapor" ke Youtube lebih efektif.

Kita juga akan melakukan hal yang sama. Kecuali kalau kita hanya butuh selembar “Berita Acara”.    

Senin, 28 November 2011

Dilema Kemarau


Musim kemarau agaknya masih panjang. Hujan yang turun sejak awal bulan ini, ternyata hanya sesekali. Yang banyak adalah panas kemarau yang terik di berbagai belahan daerah di Indonesia. Kalau sudah panas menyengat, banyak berita sawah kekeringan, dan ternak kekurangan air minum. Gambar tanah retak banyak menghiasi koran, majalh dan TV.

Lalu teringat Rasulullah mengajarkan kita melaksanakan istisqo'. Sholat minta hujan. Umat Islam berbondong-bondong ke lapangan melaksanakan shalat sunnah dan berdoa agar Allah segera menurunkan hujan.

Kalau sedang musim kemarau begini memang panas terik serasa siksaan. Maka guyuran hujan menjadi rahmat yang dinanti-nantikan. Maka shalat istisqo menjadi andalan. Dan di beberapa daerah, terlihat mulai turun hujan.

Hujan adalah rahmat. Hujan adalah kebaikan. Ini yang banyak kita baca di Al Quran. Hujan akan menghidupkan bumi yang mati. Tanah yang tandus. Hasil pertanian yang kerontang.

Tapi di negeri ini, Indonesia, sebagian kita ragu mengakui hujan adalah rahmat. Karena saat musim hujan justru banyak penduduk yang rumahnya terendam air. Lalu mereka mengungsi ke tempat tinggi. Di tenda, di sekolah, di masjid. Dengan fasilitas yang tak juga membaik dari tahun ke tahun. Meskipun banjir sudah jadi langganan. Maka setelah banjir ada saja korbannya. Kerusakan bangunan, penyakit, bahkan jiwa.

Maka di saat kemarau seperti ini. Doa kita sering tak tulus dimohonkan kepada Allah. Meskipun di satu sisi kita rindu dengan guyuran hujan. Di sisi lain, kita takut kebanjiran. Maka doapun tak dilantunkan dengan lepas. Maka Allahpun memperpanjang kemarau di negeri ini.

Inikah dilema doa di Indonesia?
Inikah namanya keberkahan yang mulai dicabut?
Kenapa?

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami (Allah) akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi." (Al A'raf : 96)

Jumpa Lagi...!

Wah, lama juga ya saya gak menulis di blog ini. Padahal menulis itu mengasyikkan.
Ada beberapa sebab saya lama absen menulis.
1. Laptop rusak. Tadinya cuma rusak LCD monitornya. Tapi yang ini masih bisa diakali dengan menggunakan PC monitor. Maklum kalau diservis biayanya mahal. Alias gak ada anggaran untuk perbaikannya.

Setelah itu rusak sistemnya jadi harus diinstal ulang. Sudah dibawa untuk intall ulang dan nginep lebih dari seminggu... eh ketika saya jemput, dia bilang, "gak bisa, Pak karena monitornya gak bisa nyala." Waduh, mati aku, rupanya selama ini dia gak paham. Waktu kuserahkan laptopku, saya sudah bilang kalau monitornya mati dan bisa pake PC monitor dengan kabel. Wal hasil, kutarik aja laptopku itu. Kesel.

2. Banyak kejadian menarik untuk ditulis. Lho mestinya tulisanku makin banyak, dong ... Iya sih, tapi ada kejadian yang lebih menarik. Yaitu masalah keluarga yang tak mungkin kutulis dan di-share di blog. Walhasil aku jadinya gak punya waktu untuk menulis. Jadi kalau kalau Anda melihat dan membaca tulisan ini, bukan berarti masalah saya sudah beres. Tapi karena ada 3 alasan. Yaitu, pertama, saya lagi bete menghadapi masalah di "dalam negeri". Kedua, karena saya sudah dapat pinjaman laptop. Ketiga karena saya pengen ngetes, apakah saya masih ingat atau tidak password saya untuk masuk ke blog ini.

3. Malas. Ini alasan yang paling tidak menarik sebenarnya. Malas adalah adalah akar dari semua terbengkalainya pekerjaan. Tapi ini saya perlu tulis. Karena malas ini berhubungan dengan zaman kini. Sejak ada laptop atau komputer saya memang jadi malas menulis di atas kertas. Kalau dipaksakan, tulisan saya akan berangsur-berangsur berubah. Dari rapih dan jelas, karena ditulis dengan huruf cetak. Lama-lama (atau tidak terlalu lama) Anda akan melihat tulisan saya berubah jadi gambar "cakar ayam". Yang hanya pantas jika itu dilakukan oleh dokter. Itupun khusus untuk menulis resep obat. Bukan kwitansi.

4. Tak ada waktu. Ini juga alasan yang mengada-ada sebenarnya. Kalau dipikir-pikir semua orang punya jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam per hari. Mana ada, seorang yang super sibuk bisa melakukan banyak kegiatan dalam sehari. Sementara saya yang "superbusa" (capek ngomong doang), merasa gak punya cukup waktu untuk menulis barang selembar dua lembar. Bahkan menulis yang ecek-ecek seperti tulisan yang sedang Anda baca ini. Mana mungkin....??? Jadi intinya pasti karena malas. ... (Wah, ini jadi masuk ke alasan ketiga dong...). Entahlah, yang jelas, selama ini saya merasa 24 jam per hari itu kurang... Atau jangan-jangan saya harus mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang produktif 'kali ya.... seperti.... (lihat alasan ke 5)

5. Terlalu banyak nonton obrolan politik. Ya... ini benar-benar sering menyita waktuku. Seperti jam-jam segini (jam 10-11 siang, saat nulis tulisan ecek-ecek ini) biasanya saya sedang nonton obrolan di 2 stasiun TV sekaligus. Sering obrolan ini bikin kesel, apalagi kalau narasumbernya tidak menunjukkan intelektualasnya, tapi hanya menonjolkan syahwat politiknya. Tapi meskipun ngeselin, kok ya bisa-bisanya saya terpancang kaku di depan TV jam-jam segini.  Kalau bosen nonton TV, lalu aku melakukan .... (alasan ke-6).

6. Fesbukan. Jama'ah ini memang paling banyak pengikutnya. Lebih berbahaya sebenarnya daripada jama'ah-jama'ah yang sering dituduh sebagai teroris. Bayangkan gara-gara fesbukan, para anggotanya -jama'ah fesbukiyah-  banyak menyia-nyiakan waktu produktifnya. Yang kasihan para majikannya. Karyawan tidak produktif gara-gara sibuk update status dan komen status teman. Orang tua juga jadi nomor sekian di rumahnya. Anak-anak lebih suka curhat ke wall daripada kepada orang tuanya. Udah gitu, anak-anak lebih suka baca komen teman-temannya daripada komen orang tuanya yang penuh nasihat. Alasannya komen ortu gak gaul banget.

Contoh:
Status anak: sebel, pacar selingkuh!
Komen teman1: cari aja pacar lain....
Komen teman2: emang cuma dia doang yang bisa selingkuh!
Komen teman3: pecat aja, cari gantinya.
Komen ortu: Makanya jangan pacaran, pacaran dilarang agama.

Komen teman1, 2, 3 di like.
Komen ortu di remove!

(Lho, kok jadi ngomongin fesbuk orang, ya....)

7. Alasan ke 7, apa ya..... Udah ah... gak usah dicari-cari. Toh, saya sudah nulis lagi. Yang namanya alasan pasti jumlahnya lebih banyak daripada jumlah yang sebenarnya. Jadi kalau di atas saya sudah nulis 6 alasan, sebenarnya sih gak sebanyak itu. ....Lho, lalu kenapa alasan-alasan itu saya tulis? Biar saya ada bahan aja untuk menulis lagi di blog ini.


Jumpa lagi, nice to see you again! 

Kamis, 18 Agustus 2011

MENTAL PENGEMIS

“Pak, minta, Pak….” Kata seorang pengemis.
”Kamu belum makan ya.” jawab orang yang diminta.
”Nih, 10.000,-” yang diminta menyodorkan uang sepuluh ribuan.
Pengemis menerima, lalu ....
”Ini Pak, kembaliannya 8.000.-.” kata pengemis sambil memberikan kembalian.
”Lho, kok pake kembalian?”
”Iya, saya Cuma butuh dua ribu untuk beli pulsa...”

Ini kurang lebih dialog yang terjadi pada iklan sebuah operator selluler di radio. Mendengar iklan ini saya nyopir ”angkot” saya sambil senyam senyum.

Ini mah PENGEMIS BANGET. Entah si penulis skrip iklan yang gak teliti atau itu memang sengaja mengupas mental pengemis. Gak butuh duit tapi tetap minta-minta. Cuma butuh dua ribu untuk beli pulsa tetap minta orang, padahal dia punya kembalian delapan ribu. Kalau dia pakai kan masih sisa enam ribu.

Mental pengemis ini memang menyedihkan. Dia mau uang banyak tapi malas bekerja. Dia sudah punya uang tapi masih terus meminta-minta.

Tapi kalau dipikir-pikir mental pengemis ini juga sudah mulai melanda banyak orang. Bahkan para pejabat –baik swasta maupun pemerintah. Gajinya sudah gede, tunjangan jabatannya sudah gede. Bahkan untuk pejabat publik seperti Bupati, Walikota, Gubernur sampai Presiden dan Menteri-Menterinya, tunjangannya bejibun. Ibaratnya recehan untuk ke toilet umum aja ada tunjangannya.

Kayak gitu masih juga minta-minta.

Jadi teringat seorang pejabat bea cukai di hanggar sebuah perusahaan tempat saya dulu pernah mampir ’hidup’. Dia minta uang pulsa untuk dia dan anak-anaknya. Wow.... sama persis dengan iklan di atas. Tapi mintanya sampai seratus ribu. Bedanya Cuma jumlahnya, tapi mentalnya sama. Sudah banyak dapat dari mana-mana, beli pulsa aja minta.

Pejabat koruptor juga begitu, minta disuapin terus, padahal uang di rekeningnya yang milyaran gak bakalan habis dipakai. Tapi masih minta-minta terus.

Hendaknya para koruptor mencermati sabda Rasulullah tentang peminta-minta ini. Kita juga ding, biar gak sampai bermental koruptor –eh pengemis:

“Sesungguhnya meminta-minta itu sama dengan luka-luka yang dengan meminta-minta itu berarti seseorang melukai mukanya sendiri. Oleh karena itu, siapa mau silakan menetapkan luka itu pada mukanya, dan siapa mau silakan meninggalkan, kecuali meminta kepada sultan atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain.” (HR Abu Daud dan Nasai)

Islam lebih mengajarkan bekerja daripada meminta-minta. Kata Rasulullah, “Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (Mutafaq’alaih)


Bahkan bagi yang masih mampu atau memiliki kekuatan untuk bekerja Rasulullah mengharamkan sedekah baginya.  “Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.”(HR Tarmidzi)


Sekarang ini mengemis atau meminta-minta malah dijadikan profesi. Seorang pengemis penghasilannya lebih tinggi daripada upah minimum kabupaten. Banyak yang memiliki rumah layak di kampung halaman. Para pejabat yang juga doyan minta-minta uang tanda tangan juga demikian. Gajinya sudah lebih dari cukup. Sepuluh tahun terakhir ini PNS dimanja pemerintah dengan kenaikan gaji dan remunerasi. Anggota DPR DPRD juga demikian. Kepala Daerah, Kepala Dinas dan lain-lain juga demikian. Mereka gak puas dengan penghasilannya dan pengen lebih kaya – kaya – dan kaya lagi. (Nggak semuanya sih kayak gini).


Mungkin mereka belum pernah mendengar ucapan Rasulullah ini, ”Siapa yg meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat dan makan batu dari neraka jahanam. Oleh karena itu, siapa yg mau silakan minta sedikit dan siapa yg mau silakan minta sebanyak-banyaknya.” (HR Tarmidzi)


Jadi kalau saya kasihan sama pengemis --baik yang compang-camping di pinggir jalan, maupun yang berkemeja rapih, berdasi, baju safari di kantor-kantor—itu semata-mata kasihan kenapa mereka belum menghayati pernyataan Rasulullah ini.

Semoga saja bukan karena cuek.....
 
Cikarang Baru 12 Agustus 2011

Sabtu, 07 Mei 2011

What does Briptu Norman do?

Ini dari ruang kelas bahasa Inggris di EMC = English + Mathematics Club. Topiknya tentang profesi.


What does he do? atau What do you do? adalah cara menanyakan pekerjaan atau profesi seseorang. Semua muridku sudah tahu itu (kecuali yang agak bolot :D).

Ketika kutanyakan What does Bambang Pamungkas do? mereka bisa menjawab dengan benar. Football player! Lalu, karena Briptu Norman sedang ngetop, maka aku tanyakan What does Briptu Norman do? Ternyata dari 10 orang di kelas hanya 1 orang yang menjawab police. Yang lain menjawab singer atau dancer atau keduanya-duanya singer and dancer.

Wow... saya kaget dan geli. Ternyata meskipun dia manggung pakai seragam Brimob, anak-anak masih tak paham kalau dia sebenarnya polisi. Bukan penyanyi apalagi penari. Rupanya berita gencar di televisi telah mencuci otak anak-anak, sehingga polisi yang bernyanyi disebut sebagai penyanyi. Apalagi si Briptu pernah hampir setiap hari dalam seminggu, tiga kali dalam sehari tampil di infotainmen bersama para selebriti lainnya.

Media telah berhasil membentuk opini publik. Dalam hal ini anak-anak. Bahwa seorang polisi dari Gorontalo yang lucu dan lugu itu kini adalah seorang penyanyi dan penari papan atas bersama para artis top lainnya. Saya yakin media tidak bermaksud demikian, tapi konsumen media adalah semua golongan, semua umur dan semua lapisan masyarakat. Dan mereka mempunyai persepsi masing-masing setelah menikmati sebuah sajian media.

Karena peran strategis inilah maka media sering dijadikan alat oleh politikus, LSM, ormas dan tentu pemilik media itu untuk membentuk opini publik. Kebohongan yang disampaikan berkali-kali sebagai kebenaran akan menjadi kebenaran di kepala publik. Sebaliknya kebenaran jika disajikan berkali-kali sebagai kejahatan akan menjadi kejahatan dalam persepsi publik. Sungguh dahsyat dan ampuh senjata yang bernama media ini.

The man behind the gun. Ini menjadi sangat penting. Media sebagai fungsi kontrol, penyedia informasi yang obyektif dan akurat ataupun mengemban fungsi hiburan dan pendidikan tergantung dari siapa di balik media itu. Dan ini menjadi barang langka di wolak-walike zaman sekarang ini. Madu seharusnya obat dan minuman yang menyegarkan dan menyehatkan. Racun adalah zat yang membawa kematian. Tapi oleh media madu bisa menjadi racun. Dan racun bisa manis bak madu.

Kembali ke who is Briptu Norman? Kemarin saya telah menyalahkan jawaban murid-muridku. Saya bilang dia bukan seleb. Dia polisi. Polisi harus bekerja menjaga keamanan, kenyamanan dan ketertiban kehidupan masyarakat. Selebriti bekerja menghibur orang. Hura-hura di panggung, itu biasa. Gaul dan glamour, itu juga biasa. Sesekali terjerumus skandal. Narkoba atau selingkuh. --Meskipun ada banyak juga yang lurus-lurus saja. Setelah ngomong demikian, eh .... ternyata di internet beredar foto-foto orang mirip Briptu Norman sedang ciuman dengan perempuan. Dan ini menjadi berita heboh.

Polisi lugu dari ujung Sulawesi bagian utara ini ternyata kini telah jadi selebriti. Berita positif dan negatif tentang dia cepat menjadi headline news.

Jadi,... sejak ini saya tidak akan lagi membuat pertanyaan What does Briptu Norman do?  Kasihan kalau murid-muridku bingung mau menjawab apa. Jangankan mereka, sayapun bingung apa pekerjaan dia sekarang.

Cikarang Baru, 7 Mei 2011

Senin, 02 Mei 2011

Gaji Umar Bakri Tak Lagi Dikebiri

Masih ingat lagu Umar Bakri yang dinyanyikan Iwan Fals pada awal-awal kemunculannya, sekitar 30 tahun yang lalu? Dalam refrainnya Iwan Fals bernyanyi:

Umar Bakri... Umar Bakri
Pegawai Negeri
Tapi mengapa gaji guru  Umar Bakri
Seperti dikebiri.

Lagu ini masih menarik karena dinyanyikan dengan syair jenaka dan gaya bernyanyi khas Iwan Fals yang pas dan satiris. Pagi ini saya mendengarnya diputar di sebuah radio swasta di Bekasi..... beberapa saat kemudian saya baru ngeh ternyata hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional.

Mungkin radio memutar lagu ini karena dalam lagu ini ada Umar Bakri yang berprofesi sebagai guru. Dan tema guru cocok dengan hari ini. Tapi kalau mendengar keseluruhan syair lagu ini, tentu sudah tak sesuai lagi dengan kondidi guru sekarang. Guru sekarang sudah makmur. Terutama yang pegawai negeri. Kondisinya berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan 30 tahun yang lalu.

Bahkan 13 tahun yang lalu, guru swasta masih lebih baik nasibnya dari pada guru PNS. Kini kebalikannya. Gaji guru PNS sekarang bisa 2 kali lebih tinggi daripada gaji guru swasta. Belum lagi ditambah tunjangan sertifikasi guru yang terkesan menganakemaskan guru PNS daripada guru swasta. Kalau di Jakarta, ada lagi tambahan penghasilan dari pemerintah provinsi.

Melihat kenyataan ini, saya sangat mensyukurinya. Guru sudah dihargai jauh lebih baik daripada sekian puluh tahun yang lalu. Tak ada lagi guru naik sepeda kumbang kayak Umar Bakri. Itu sudah selayaknya. Dari guru kita bisa mengenal huruf, kata, kalimat dan merangkai kalimat demi kalimat menjadi cerita. Dari guru kita mengenal angka, berhitung dan mengoperasikannya menjadi nilai-nilai transaksi bisnis. Dari guru kita mengenal budi pekerti, budaya, hak dan kewajiban sehingga kita bisa bermasyarakat dengan baik di lingkungan kita. Dari guru kita dituntun menjadi orang mandiri.

Kalau dulu ada guru kaya karena memungut pungli dari orang tua murid, kini guru kaya karena hak sah yang diterimanya dari gaji, tunjangan fungsional, dan sertifikasi. Kalau masih ada yang menjual bangku, mengkomersilkan RSBI, SBI, SSN dan lain-lain, itu hanya riak ketamakan yang selayaknya disingkirkan. Guru yang mensyukuri kondisinya dengan terus menjaga diri dari penyimpangan masih banyak. Dan jangan sampai ini dikotori oleh guru tamak yang tak puas-puasnya memperkaya diri.

Di hari Pendidikan Nasional ini saya bersyukur atas nasib para guru –terutama yang PNS- zaman ini. Mereka pantas mendapatkannya. Apa yang diperoleh sekarang adalah buah dari sekian puluh tahun mereka bersakit-sakit memintarkan puluhan ribu anak didiknya, dengan hidup sederhana bahkan tak jarang berkekurangan. Kini semua sudah berubah dan patut disyukuri.

Kalau ada yang masih luput dari perhatian pemerintah adalah nasib guru swasta. Meskipun sudah ada sertifikasi bagi guru swasta, tapi itu diberikan setelah guru PNS mendapatkannya. Jadi guru swasta selalu ditempatkan pada nomor kesekian.

Selain itu, PR berikutnya adalah perhatian pemerintah pada nasib murid dari orang tua yang tak berkemampuan lebih. Kualitas sekolah yang semakin bagus, dengan guru-guru tersertifikasi ternyata memunculkan biaya-biaya yang tinggi yang sulit dipahami bagi orang tua. Para orang tua masih menganggap bahwa sekolah negeri harus lebih murah daripada sekolah swasta. Ternyata zaman telah berubah, adanya label-label SSN, RSBI, SBI telah menjadikan sekolah murah hanya ada pada zaman dulu. Guru yang bergaji baik, ternyata hanya untuk murid-murid dari orang tua-orang tua kaya.

Jadi, kini tak hanya gaji guru PNS yang lebih tinggi dari pada gaji guru swasta, uang masuk sekolah negeri pun sudah ada yang jauh lebih tinggi daripada uang masuk sekolah swasta.

+++

Membaca facebook teman-teman yang berprofesi guru, tahun ini banyak keluhan tidak cairnya tunjangan sertifikasi. Padahal tahun lalu mereka menerimanya. Dan itu hak mereka sebagai guru bersertifikasi. Meskipun mereka sudah tak miskin lagi, bahkan sudah layak dibilang kaya, saya kasihan juga membacanya.

.....Lagu Umar Bakri kembali terngiang. Tapi syairnya harus diganti:

Umar Bakri... Umar Bakri
Pegawai Negeri
Tapi mengapa uang sertifikasi Umar Bakri
Seperti dikebiri.
  
Cikarang Baru, 2 Mei 2011

Rabu, 16 Februari 2011

Hosni Mubarrak dan Joki 3 in 1


Joki 3 in 1 (source: skyscrapercity.com)
Di Jakarta ternyata masih ada 3 in 1. Maksudnya masih ada jalan-jalan yang hanya boleh dilalui mobil pribadi berpenumpang minimal 3 orang termasuk sopir, pada jam-jam tertentu. Lumayan, peraturan 3 in 1 membuka lapangan kerja informal baru yaitu para joki. Yaitu orang yang menawarkan diri menjadi orang ke 2 dan atau ke 3 jika ternyata anda melalui jalan-jalan tersebut hanya sendirian atau berdua saja. Bukan hanya informal, lapangan kerja ini bahkan juga illegal. Karena mengakali peraturan. Sehingga target peraturan yaitu untuk mengurangi kemacatena jalan-jalan di Jakarta tak kunjung tercapai. Bahkan beberapa timbul masalah baru yaitu kejahatan. Baik oleh joki kepada pemilik mobil. Ataupun oleh pemilik mobil kepada joki.

Tapi ya itu tadi program 3 in 1 masih tetap ada sampai sekarang. Dan Jakarta masih macet aja.
Profesi  joki 3 in 1 di Jakarta ini ternyata bukan satu-satunya di dunia. Di belahan dunia yang dikenal sebagai Timur Tengah juga ada joki 3 in 1. Sama-sama informal, sama-sama illegal. Sama-sama tidak menyelesaikan masalah.  Juga sama-sama beberapa kali menimbulkan masalah.

Kedua joki di Jakarta dan Timur Tengah skala kerjanya hanya sekitar perut. Meskipun demikian ada bedanya juga. Di Jakarta, joki bekerja demi perut kosong alias lapar menjadi sekedar perut kenyang. Di Timur Tengah, jokinya bekerja demi perut sendiri kenyang menjadi perut sekeluarga, kerabat dan teman-temannya kenyang. Bedanya lagi, joki di Jakarta lusuh, miskin, tak bisa kaya. Joki di Timteng tampil necis, kaya raya, tak bisa miskin, dihormati. Bahkan sangat dihormati saat bekerja menjadi joki.

Seperti apa sih joki di Timteng itu?? Mungkin Anda bertanya-tanya. Bahkan sudah muncul gairah untuk melamar jadi joki di sana??

Mungkin Anda sudah kenal namanya sebelumnya. Tapi tak tahu saja, bahwa mereka yang sudah Anda kenal namanya itu sebenarnya adalah joki. Oke…. Biar tidak penasaran saya kasih satu contoh mantan joki itu. Dia sangat dihormati saat ‘menjabat’ sebagai joki. Meskipun kini tidak lagi karena sudah pension.

Dia adalah Hosni Mubarrak. Joki nomor satu di Mesir, yang sepuluh hari yang lalu menyatakan pension dari dunia perjokian.

Lho… ?? Dia kan mantan presiden Negara Mesir yang dikenal sebagai Negara seribu menara itu?

100% correct. Rasanya tidak ada orang lain di dunia ini yang bernama sama dengan namanya. Paling tidak, itu yang ada di file nama yang saya miliki. Hehehe….

Lho…?? Emang dia kerja apa di sana?? Apakah selain jadi presiden dia merangkap sebagai joki?

100% correct.

Lho…?? Emang gak cukup gajinya sebagai presiden? Joki apa dia? Apakah di sana ada 3 in 1 juga??

100% correct. Di sana juga ada 3 in 1 seperti  yang saya tulis di atas. Bahkan semua area di Timur Tengah
adalah area 3 in 1.

Lho..?? Pasti ada yang tambah gak mudeng dengan tulisan ngelantur ini. Hehehe…. Silakan ditutup aja tulisan ini, karena memang agak ngelantur sih…. Tapi kalau mau diteruskan yang silakan aja. Tak ada paksaan Anda membaca atau tidak membaca tulisan saya ini. Saya juga tak dipaksa siapa-siapa membuat tulisan ini.

Tau gak siapa pemilik mobil yang masuk daerah 3 in 1 yang ditumpangi Mr. Joki Hosni Mubarrak? Ya, joki mahal pasti yang bayar juga orang yang lebih berduit. Joki terhormat, pasti yang nyopir juga lebih terhormat. …. Sopirnya adalah George Bush, Barrack Obama, Benyamin Netanyahu, Yitsak Rabin, Ariel Sharon, Condoliza Rice, Hillary Clinton dan teman-temannya.

Wow, pantas saja.
Para sopir terhormat itu kalau tidak menggunakan jasa joki Hosni Mubarrak gak bakalan bisa melalui jalan 3 in 1 di Timur Tengah.  Dan kini setelah sukses melaluinya joki-joki tua dibiarkan turun dari mobilnya. Toh nanti akan muncul joki-joki penggantinya.

Lho, emang apa sih 3 in 1 di Timur Tengah yang membuat para Amrik dan Zionis itu tertarik melintas di sana? Oke, biar tulisan ini gak panjang lebar dan ngelantur, 3 in 1 di sana adalah:
1. Peguasaan Minyak Bumi
2. Eksistensi negara Zionis Israel
3. Keterpurukan Negara-negara Islam

Sekali lawatan keTimteng, para sopir terhormat itu akan mendapat 3 hal ini. Alias 3 in 1. Dan agar selamat mereka perlu para joki. Salah satunya adalah Hosni Mubarrak. Dan para joki itu kini sedang digugat pemilik sah jalan-jalan di  Timur Tengah, yaitu rakyat Timur Tengah yang tak mau terpuruk lebih dalam lagi.

Cikarang Baru, 16 Februari 2011
Choirul Asyhar