Tampilkan postingan dengan label tarawih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarawih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2009

4-4-3 atau 2-2-2-2-3

Bagi penggemar sepak bola pasti tahu dengan formasi di atas. Bahwa itu BUKAN formasi penempatan pemain dalam pertandingan bola! Mana ada kipper jumlahnya 3. (Sssst…. Karena saya bukan penggemar bola, saya tidak tahu jangan-jangan strategi di atas memang ada, ya….???).

Tapi bagi penggemar shalat tarawih di bulan ramadhan, pasti kenal dengan komposisi angka ini. Ya… ini memang komposisi jumlah rakaat tarawih untuk genap menjadi 11 rakaat. Yang pertama 4-4-3. Artinya 4 rakaat satu salam, dilakukan dua kali lalu ditutup dengan witir 3 rakaat. Lalu yang kedua 2-2-2-2-3. Bermakna 2 rakaat satu salam sebanyak empat kali lalu ditambah witir 3 rakaat. Dua-duanya totalnya menjadi 11 rakaat.

Di masjid dekat rumah shalat tarawih dikerjakan dengan cara 2-2-2-2-3. Saya dan anak-anak sudah hapal betul dengan cara ini. Cara ini lebih familiar dilakukan di sejumlah masjid. Dengan dua-dua jamaah tidak terlalu capek. Karena setiap dua rakaat kita bisa jeda. Anak saya yang berumur lima tahun pun, bisa belajar berhitung dengan mudah. Dia cepat tahu, kurang berapa rakaat lagi shalat tarawih selesai karena tinggal mengurangi dua-dua.

Entah tahu dari mana tiba-tiba di sela-sela jeda shalat tarawih Adnan (5) bertanya.

“Yah, boleh nggak kita shalat empat-empat.”

Saya tak perlu melacaknya darimana dia dapat ide ini, mendingan saya jawab saja:

“Boleh.” Karena memang nyatanya Rasulullah juga pernah melakukan cara ini.

“Jadi empat-empat-tiga.” Saya menjelaskan lebih lanjut.

Adnan mencoba berhitung dengan jari-jarinya. Empat ditambah empat sama dengan delapan lalu ditambah witir tiga rakaat. Semuanya jadi sebelas.

“Yah, mau dong kita shalat 4-4?” pintanya.

“Emang kenapa?” Tanya saya.

“Biar lebih cepat selesai.” alasannya. Mungkin karena salamnya cuma tiga kali, jadi kesannya lebih cepat selesai.

“Ya… lain kali kita shalat di masjid al Islah.” Saya menjanjikan. Masjid al Islah di RW tetangga memang melaksanakan tarawih dengan 4-4-3.

Sejak itu setiap malam ketika berangkat tarawih, Adnan selalu mengingatkan kapan kami tarawih 4-4-3. Dan saya selalu menjanjikannya. Tapi sayang saya selalu melupakannya karena kesibukan saya. Sampai ramadhan pun berakhir kemarin.

Saya menyesal sekali. Sebenarnya ini bakal menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi Adnan. Bahwa ada keberagaman dalam melaksanakan ibadah tarawih. Dan semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah. Kalau Rasulullah pernah melakukan demikian, tentu tak ada masalah para pengikutnya juga melaksanakan dengan beberapa cara itu.

Mengingat keinginan Adnan ini, saya jadi teringat heboh beberapa tahun lalu di sebuah masjid lainnya di perumahan saya tinggal. Jamaah marah karena Imamnya mengimami shalat tarawih dengan 4-4-3. Padahal selama ini telah disepakati untuk tarawih dengan 2-2-2-2-3. Gara-gara kemarahan itu beberapa orang jamaah yang setuju dengan 4-4-3, termasuk sang Imam itu kini tak pernah lagi menginjakkan kakinya di masjid itu.

Sekali lagi saya menyesal Ramadhan tahun ini tak sempat mengajak Adnan shalat tarawih di masjid 4-4-3. Padahal dia sangat menginginkannya. Kalau saja dia berkesempatan, tentu ini menjadi investasi sikap toleran dalam jiwanya.

Ya Allah, berilah saya, dan juga Adnan, umur panjang sampai Ramadhan tahun depan. Lalu kami jalan-jalan ke masjid lain untuk menikmati ‘strategy’ 4-4-3.

Cikarang Baru, 1 Syawal 1430H/20 September 2009

Jumat, 04 September 2009

Matematika Tarawih

Setelah mengikuti tarawih empat belas kali, ada perkembangan baru Adnan (5 th) dalam bermatematika. Jika saya tidak dapat tugas jadi imam sholat, Adnan shalat di sebelah saya. Biasanya sejak selesai 2 rakaat pertama dia selalu bertanya, “Ayah, berapa rakaat lagi.” Dan saya menjawab dengan menunjukkan jari-jari saya sebanyak rakaat yang tersisa. Demikian seterusnya sampai shalat witir selesai.

Tadi malam demikian pula.
Dia bertanya hal yang sama sejak salam 2 rakaat pertama selesai. Kali ini saya tidak menjawabnya. Malah saya balik bertanya, “Tinggal berapa, ayo…?”

Mata Adnan bergerak-gerak, seakan dia melihat sesuatu di kepalanya. Jari tangannya tidak dimainkan untuk menghitung sesuatu.

“Berapa?” Tanya saya lagi.
“Em… sembilan.” jawabnya. Saya menyorongkan jempol saya, tanda saya senang karena jawabannya benar. Dan segara saya dan Adnan berdiri karena Imam segera memulai 2 rakaat kedua.

Begitu selesai salam 2 rakaat kedua kini saya yang bertanya.
“Adnan, berapa lagi?”
Sejenak dia diam…. Lalu jawabnya,
“Tujuh.” Saya melemparkan senyuman senang, sambil berkata “Yes!”
“Gimana caranya?”
“Ya, tinggal dikurangi aja dua-dua.”
Saya elus kepalanya, tanpa bisa menyembunyikan kegembiraan saya. Dia bisa menyimpulkan sendiri operasi hitungan tanpa saya sengaja mengajari. Bayangkan saya punya murid di bimbel saya yang jauh lebih tinggi kelasnya. Sampai saat ini masih kesulitan menyimpulkan menggunakan operasi hitungan apa dalam menghadapi soal cerita. Kapan harus menjumlah, mengurangi. Kapan harus kali atau bagi.

Lalu Adnan saya tanya lagi,
“Habis tujuh berapa lagi?” maksud saya setelah 2 rakaat lagi dilaksanakan, shalat tarawih tinggal berapa lagi.
“Lima.” jawabnya lebih cepat.
“Lalu?” Tanya saya.
“Tiga.” Jawabnya lebih cepat lagi.
Lalu?
“Satu” jawabnya seperti tanpa mikir lagi
“Lalu”
“Nol!”

Ya, di masjid kami memang witir yang tiga rakaat dilaksanakan dua kali salam. Jadi 2 + 1. Saya telah mendapatkan hadistnya, ternyata ini boleh dilakukan.

Dan alhamdulillah, dengan rutin shalat tarawih Adnan bisa enjoy pula belajar matematika.

Cikarang Baru, 14 Ramadhan 1430H/4 September 2009
Choirul Asyhar

Kamis, 03 September 2009

Semangat…..


Hari itu saya mendapat jadwal mengimami shalat tarawih dan kultum di sebuah mushollah yang saya belum tahu lokasinya. Dalam perjalanan saya menelepon kontak personnya. Telpon gak diangkat. Dua kali saya turun bertanya kepada orang yang lewat, menanyakan lokasi musholla. Tidak ada jawaban pasti. Sayup-sayup iqomat mulai dikumandangkan musholla dan masjid terdekat.

Akhirnya saya putuskan berbelok ke sebuah masjid terdekat yang saya tahu. Akhirnya saya masbuk sholat Isya di situ. Lalu dilanjutkan shalat tarawih. Ternyata di masjid ini tidak ada kultum. Kuliah tujuh menit yang biasa disampaikan sebelum shalat tarawih. Yang realisasinya bisa jadi kuliah terserah antum: bisa tujuh menit, sepuluh menit, seperempat jam bahkan dua puluh menit. Meskipun demikian, bagi yang haus ilmu tak apalah waktunya diperpanjang demikian.

Tapi di sini tak ada kultum.
Sebagai makmum tentu saya ikut aja. Anak saya Adnan, duduk di sebelah saya. Tarawihpun dimulai. Dua rakaat pertama diselesaikan dengan membuat saya ngos-ngosan. Betapa tidak…. Imam membaca alfatihah, surat-surat pendek dengan kecepatan tinggi. Lalu doa-doa dalam rukuk, i’tidal, sujud, duduk dan seterusnya seperti saling mengejar antara Imam dan makmum. Saat Imam bertakbir untuk sujud, makmumpun mengikuti. Begitu makmum menyentuhkan dahinya di sajadah, Imam sudah bangkit duduk. Begitu makmum duduk, Imam sudah sujud lagi. Makmum mengejar sujud, Imam bagai meloncat tegak berdiri di rakaat berikutnya.

Baru pada rakaat kedua saya bisa agak bernafas lega. Meskipun tak bisa menikmati indahnya bacaan Al fatihah dan surat-surat pendek. Sudah suratnya pendek, dibaca cepat pula. Maka ketika Imam rukuk, dimulailah kembali kejar-mengejar gerakan makmum dan imam. Sampai bacaan tasyahudpun saya tak pernah bisa menyelesaikannya. Ketika saya baru membaca syahadat, Imam sudah mengucapkan salam.

Saya merasakan bahwa sang Imam bagai sopir angkot yang mengejar setoran. Benar belaka dugaan saya, ketika selesai rakaat ke delapan, ternyata ‘bilal’ memberikan lagi aba-aba untuk melanjutkan dua rakaat berikutnya. Bukan shalat witir. Ada sekitar separuh isi masjid yang berdiri pulang. Maka sayapun beranjak ke luar sambil menarik tangan Adnan.

“Ada apa, Ayah?” tanyanya heran. Dia heran saya keluar, dia juga heran kenapa sudah delapan rakaat kok belum shalat witir juga.

“Kok belum shalat witir?” tanyanya.
“Iya, disini shalatnya 23 rakaat.” Lalu saya menjelaskan bahwa shalat tarawih ada yang 11 rakaat ada pula yang 23 rakaat.
“Who, banyak banget.” Komentarnya.
“Terus kenapa Ayah keluar?”
“Ayah, capek mengejar Imam. Bacanya cepet banget…Ayah gak bisa ngejar ” jawab saya.
“Wah, kalau Adnan malah semangat!” jawabnya tak saya duga.
“Adnan kalau shalat sendirian ‘kan sudah biasa shalat cepat, Yah…” katanya ringan.
“Jadi, Adnan semangat kalau shalatnya cepat…” lanjutnya. “Tapi Adnan gak mau kalau 23 rakaat.”

Saya jelaskan tak apa shalat 23 rakaat, karena ini juga sunnah para sahabat. Tapi tentu tetap harus menjaga kualitas. Bacaan tartil dan syahdu, dengan gerakan yang wajar. Kalau toh ada sebagian yang belum paham maknanya, kita bisa menikmati indahnya lantunan ayat-ayat Al Quran. Juga bisa khusyu membaca doa-doa.

Shalat itu kan curhat kepada Allah, kenapa harus buru-buru. Buru-buru berarti segera berpisah dengan Allah. Jadi mesti berlama-lama. Enak, toh...?

Cikarang Baru, 3 Ramadhan 1430H