Tampilkan postingan dengan label imam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Imam Vs Sopir Angkot

Wah apa lagi nih? Sopir angkot berantem dengan imam masjid? Gak, lah....
Mereka hubungannya masih baik-baik saja, kok. Lalu apa, dong....
Begini ceritanya:

Kalau Anda sering shalat berjamaah di masjid, pasti sering mendengar aba-aba Imam sebelum shalat dimulai. "Shafuu, shufufakum." Rapat dan luruskan shaf. Demikian kurang lebih maknanya. Shaf adalah barisan dalam shalat berjamaah. Ada Imam yang mengatakan demikian, lalu segera melakukan takbiratul ikhram. Artinya sang Imam hanya basa-basi memerintah jamaahnya untuk merapikan shaf. Tak perduli perintahnya dilaksanakan atau tidak, sang Imampun langsung takbir.

Kalau Anda pernah jadi imam dan memberikan aba-aba yang sama, tapi lebih serius, maka Anda akan menyaksikan betapa banyak jamaah yang tak peduli dengan aba-aba ini. Hanya beberapa orang yang bergerak merapatkan barisan. Sebagian besar cuek-cuek saja. Meskipun imam mengatakan bahwa rapat dan lurusnya barisan adalah salah satu keutamaan dalam shalat berjamaah.

Saya -sesekali menjadi imam- juga mengalami hal ini. Dicuekin makmum.

Kadang-kadang saya berfikir, barangkali perlu ketegasan. Misalnya, jika jamaah cuek, shalat tak dimulai. Jamaah harus rapih dulu, baru shalat dimulai. Tapi saya masih belum berani melawan 'arus'. Karena banyak juga imam-imam lain yang cuek aja. Aba-abanya digubris atau tidak, langsung tancap takbiratul ikhram. Bahkan banyak juga yang tanpa memberi peringatan ini. Bahkan ada juga yang tak peduli barisan sudah siap atau belum.

Bandingkan dengan ketika naik angkot. Sopir bilang "empat enam-empat enam". Maksudnya empat penumpang di kiri dan enam penumpang di kanan. Maka penumpang menurut saja. Karena kalau tidak mau, angkot gak bakalan berangkat.

Ketika naik angkot jurusan Cikarang - Bekasi, saya menyaksikan betapa penumpang patuh diatur duduknya oleh kenek -sang wakil sopir angkot. Rapet sekali, bahkan empet-empetan. Kalau ada penumpang yang tak mau empet-empetan duduknya, berarti angkot gak bakalan berangkat. Atau dia harus bayar dua kursi. Total penumpang harus 27 orang, kalau tidak gak bakalan berangkat.

Aneh, semua penumpang nurut. Padahal mereka duduk empet-empetan itu gak gratis. Mereka bayar, tapi mau saja diatur-atur. Sementara di masjid, kita shalat gratis, diatur-atur gak mau. Padahal kata Rasulullah, kalau shaf tidak rapat bisa diisi oleh syetan yang akan mengganggu kekhusyukan sholat. Atau kalau shaf terputus, maka sebagian jamaah yang terputus itu tak mendapatkan pahala shalat berjamaah.

Jadi ternyata kita lebih patuh kepada sopir angkot -bahkan kepada keneknya- daripada kepada Imam masjid.

Apa perlu shalat harus bayar, dan Imam tidak akan memulai shalat kalau shaf belum rapat dan lurus?

Kalau Anda tersinggung dengan ide ini, maka setelah membaca tulisan ini: Ikuti instruksi imam masjid. Rapatkan dan luruskan shaf shalat Anda saat melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Cikarang Baru, 30 November 2011

Sabtu, 16 Januari 2010

MENDADAK

Tadi pagi seusai shalat subuh, di masjid diumumkan bahwa seorang teman kami, orang tua kami, guru kami, imam masjid kami telah berpulang ke rahmatullah jam 2 dini hari.

Pengumuman seseorang meninggal dunia adalah hal biasa, karena setiap orang pasti meninggal dunia. Tapi ketika mengenal siapa yang meninggal dunia, sering kita terhenyak kaget. Apalagi jika tidak didahului dengan sakit serius. Demikian juga yang saya dan beberapa teman jamaah masjid rasakan pagi ini. Kami kaget, seperti tak percaya. “Masak sih, kemarin masih jadi imam shalat maghrib?” Sebuah pernyataan ketidakpercayaan meskipun tak berarti menganggap ini berita bohong. Karena kami telah diajari bahwa setiap yang berjiwa pasti mengalami kematian.

Tapi secara akal manusia, memang banyak yang menganggap kematian ini sangat mendadak. Terbayang, sholat Jum’at masih menjadi imam, mahgrib juga demikian. Isya shalat juga di masjid meski jadi makmum. Lalu jam dua belas malam di bawa ke klinik terdekat, kemudian jam setengah dua meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit yang lebih besar.

Sering kita mendengar dalam pengajian bahwa kematian itu pasti datang. Dan Allah telah memberi tanda-tandanya. Sebagaimana kepada Nabi Daud, berupa rambut yang berubah memutih. Setiap umur kita bertambah itu adalah perjalanan pasti menuju kematian. Setiap mata yang semakin lamur, itu adalah tanda-tanda usia semakin udzur. Ketika badan semakin ringkih, itu adalah pertanda kita harus semakin paham kemana arah kehidupan kita. Ketika kekuatan tubuh semakin berkurang, tanda-tandanya masa kontrak hidup kita di dunia ini juga semakin berkurang.

Tapi rasanya berita itu tetap seperti mendadak!

Pantas saja ketika Rasulullah yang sangat-sangat dekat dihati para sahabat diumumkan meninggal dunia, ada saja para sahabat mulia yang tak mempercayainya. Seakan kehidupan yang indah ini, kalau boleh kita nikmatilah selama-lamanya. Seakan kebersamaan dengan Rasulullah mulia itu tak boleh dihentikan oleh waktu. Seakan semangat jihad ini tak semestinya dihentikan oleh kematian.

Ya, semangat hidup sering membuat kita lupa akan datangnya kematian. Meskipun tanda-tandanya hadir di dalam jasad kita, maunya besok kita masih hidup. Meskipun tanda-tanda di sekitar kita berupa anak-anak yang semakin beranjak dewasa telah hadir di pelupuk mata, seakan masih saja kita merasa bakal hidup terus sampai beberapa tahun ke depan.

Ya, semangat hidup memjadikan kita terlena dengan kematian yang bisa jadi sudah dekat disekitar kita. Jadi kematian itu bukan mendadak datangnya. Hanya diri kita saja yang tak siap menyongsongnya.

Jika demikian halnya, sebaiknyalah kita bersiaga. Ayo… bersiap siagalah!

Cikarang Baru, 30 Muharram 1431/16 Januari 2010