Sabtu, 14 Januari 2012

CCTV Alam Semesta

Tahun sudah berganti. Banyak yang bikin resolusi untuk menghadapi tahun baru. Yang jelas, doa-doa bertaburan semoga tahun ini lebih banyak kebaikan seliweran di bumi pertiwi. Kesuksesan menyergap kehidupan kita. Kekurangberuntungan pergilah dan jangan kembali. Pemerintahpun berdoa semoga rakyat makin sejahtera. Pemerintah bisa memerintah lebih adil dan bijaksana. Adil dan bijaksana bukan hanya ada di negeri dongeng. Rakyat sejahtera dan mengelu-elukan pemimpinnya bukan hanya ada di dongeng-dongeng kuno.

Aku pengennya sih demikian. Insya Allah pemimpinnya juga pengennya demikian. Semua berawal dari mimpi. Maka kalau pemimpin dan rakyat mimpinya sama, kompak, insya Allah, akan terwujud. Hanya saja mimpi itu harus dikawal dan dijaga. Sehingga kita berupaya keras mewujudkannya.

Semua langkah kita harus menuju ke sana. Menuju ke alam mimpi itu. Memetiknya dan membawanya ke alam nyata. Jangan ada langkah kita yang melenceng. Atau tak ikhlas. Diam-diam membawa agenda lain selain kesejahteraan rakyat. Misalnya kesejahteraan diri dan keluarga. Pokoknya apa yang kita mimpikan dan doakan harus dikejar sehingga mewujud.

Pengawasan mesti diperketat. Agar tak ada lagi makhluk KongKaliKong bergentayangan di sudut-sudut ruang kebusukan hati. Pengawasan mesti digalakkan, agak tak ditelikung oleh MarKus yang menjajakan dagangannya di pasar-pasar gelap. Pengawasan jangan meleng, agar tak ada lagi yang ngumpet-ngumpet menggunting kain dalam lipatan.

Kalau di mall dan supermarket ada CCTV, maka di atas bumi persada ini juga harus dipasang CCTV. Yang akan merekam semua gerak-gerik manusia di muka bumi pertiwi ini. Kalau di kantor-kantor ada CCTV untuk mendokumentasi dan mengawasi gerak-gerik karyawan dan para tamu, maka di atas bumi pertiwi ini juga harus disebar CCTV demi merekam jejak-jejak langkah kita.

Kalau di mall, supermarket dan perkantoran memasang CCTV itu mudah. Banyak tempat untuk menempelkan CCTV itu. Tapi sesungguhnya memasang CCTV bumi persada ini justru lebih mudah lagi. Cukup gantungkan dan tempelkan pada hati nurani kita. Atau kita nitip kepada malaikat yang ada di kanan kiri kita.

Itu kalau kita memang mau bener-bener memperbaiki diri  di tahun baru ini.
Kalau tidak? Ya, buang saja diri Anda ke masa lalu.
Hare genee... gak mau jujur??? Hare genee gak mau diawasi???
Hare genee masih ngumpet-ngumpet bersama binatang KongKaliKong?

Salam Adil dan Sejahtera untuk Anda Semua  

Jumat, 09 Desember 2011

Ini Hari ANTI-KORUPSI, Bung!

Inilah yang seakan-akan diteriakkan oleh para mahasiswa dan LSM di berbagai daerah di Indonesia. Orang yang gak pernah menghitung hari jadi terhenyak. Oh iya, ta? Seperti saya ini. Baru ngeh kalau hari ini hari antikorupsi.

Awal bulan ini di TV digembar-gemborkan sebagai hari AIDS. Kini hari antikorupsi. Apa tujuan hari-hari ini. Tentu tujuannya sebagai warning. Hari antikorupsi tujuannya adalah warning kepada semua koruptor, calon koruptor dan bakal calon koruptor agar berhati-hari dalam korupsi biargak ketangkep.... eh.. salah. Agar tidak lagi melanjutkan kegiatan, niat dan cita-citanya. Yang sudah terlanjur, kembalikan uangnya, dan menyerahkan diri ke KPK dengan sukarela.

Saya membayangkan mestinya hari antikorupsi ini diperingati dengan pernyataan tegas pemimpin negeri ini. Misalnya hukuman mati bagi koruptor, potong leher atau minimal potong tangan. Gak perlu takut ngomong begini, toh prosesnya akan panjang --belum lagi prosesnya bisa dimakelari hehehe...-- kalau ada yang jadi markus nanti hukumannya bisa sekaligus tiga-tiganya. Plus bonus 1: potong kemaluannya.

Ternyata yang teriak lantang malah mahasiswa dan LSM. Saya sih senang aja mendengar teriakan idealis mereka. Tapi masih ada kekhawatiran juga, emangnya mereka terus-terusan jadi mahasiswa dan aktifis LSM. Bukankah yang sekarang mereka teriaki dulunya juga pernah jadi aktivis mahasiswa dan LSM? Makanya seharusnya teriakannya serentak seluruh rakyat Indonesia. Sehingga koruptor, calon koruptor dan bakal calon koruptor merasakan bahwa tiada lagi tempat bagi mereka di seluruh jengkal tanah di Indonesia ini. (kalau masih mau selamat loncat aja ke Singapore).

Seorang anggota jamaah fesbukiyah malah sinis mengatakan "hari antikorupsi adalah hari liburnya para koruptor. Jadi sehari ini mereka tidak korupsi dulu.... besok korupsi lagi..."  Duh sedemikian apatisnya temen jamaah fesbukiyah ini. Mudah-mudahan ini belum bisa jadi cermin apatisme rakyat Indonesia dalam pemberangusan koruptor dari muka bumi Indonesia. Apalagi dengan terpilihnya komandan baru KPK pak Abraham Samad, yang kabarnya bakal galak itu.

Oke, kita tunggu saja... semoga gaung hari antikorupsi yang cuma sehari ini bisa mewarnai seluruh hari-hari dalam setahun kehidupan kita.

Kamis, 01 Desember 2011

Imam Vs Sopir Angkot

Wah apa lagi nih? Sopir angkot berantem dengan imam masjid? Gak, lah....
Mereka hubungannya masih baik-baik saja, kok. Lalu apa, dong....
Begini ceritanya:

Kalau Anda sering shalat berjamaah di masjid, pasti sering mendengar aba-aba Imam sebelum shalat dimulai. "Shafuu, shufufakum." Rapat dan luruskan shaf. Demikian kurang lebih maknanya. Shaf adalah barisan dalam shalat berjamaah. Ada Imam yang mengatakan demikian, lalu segera melakukan takbiratul ikhram. Artinya sang Imam hanya basa-basi memerintah jamaahnya untuk merapikan shaf. Tak perduli perintahnya dilaksanakan atau tidak, sang Imampun langsung takbir.

Kalau Anda pernah jadi imam dan memberikan aba-aba yang sama, tapi lebih serius, maka Anda akan menyaksikan betapa banyak jamaah yang tak peduli dengan aba-aba ini. Hanya beberapa orang yang bergerak merapatkan barisan. Sebagian besar cuek-cuek saja. Meskipun imam mengatakan bahwa rapat dan lurusnya barisan adalah salah satu keutamaan dalam shalat berjamaah.

Saya -sesekali menjadi imam- juga mengalami hal ini. Dicuekin makmum.

Kadang-kadang saya berfikir, barangkali perlu ketegasan. Misalnya, jika jamaah cuek, shalat tak dimulai. Jamaah harus rapih dulu, baru shalat dimulai. Tapi saya masih belum berani melawan 'arus'. Karena banyak juga imam-imam lain yang cuek aja. Aba-abanya digubris atau tidak, langsung tancap takbiratul ikhram. Bahkan banyak juga yang tanpa memberi peringatan ini. Bahkan ada juga yang tak peduli barisan sudah siap atau belum.

Bandingkan dengan ketika naik angkot. Sopir bilang "empat enam-empat enam". Maksudnya empat penumpang di kiri dan enam penumpang di kanan. Maka penumpang menurut saja. Karena kalau tidak mau, angkot gak bakalan berangkat.

Ketika naik angkot jurusan Cikarang - Bekasi, saya menyaksikan betapa penumpang patuh diatur duduknya oleh kenek -sang wakil sopir angkot. Rapet sekali, bahkan empet-empetan. Kalau ada penumpang yang tak mau empet-empetan duduknya, berarti angkot gak bakalan berangkat. Atau dia harus bayar dua kursi. Total penumpang harus 27 orang, kalau tidak gak bakalan berangkat.

Aneh, semua penumpang nurut. Padahal mereka duduk empet-empetan itu gak gratis. Mereka bayar, tapi mau saja diatur-atur. Sementara di masjid, kita shalat gratis, diatur-atur gak mau. Padahal kata Rasulullah, kalau shaf tidak rapat bisa diisi oleh syetan yang akan mengganggu kekhusyukan sholat. Atau kalau shaf terputus, maka sebagian jamaah yang terputus itu tak mendapatkan pahala shalat berjamaah.

Jadi ternyata kita lebih patuh kepada sopir angkot -bahkan kepada keneknya- daripada kepada Imam masjid.

Apa perlu shalat harus bayar, dan Imam tidak akan memulai shalat kalau shaf belum rapat dan lurus?

Kalau Anda tersinggung dengan ide ini, maka setelah membaca tulisan ini: Ikuti instruksi imam masjid. Rapatkan dan luruskan shaf shalat Anda saat melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Cikarang Baru, 30 November 2011

Rabu, 30 November 2011

Youtube Vs Polisi

Anda mengalami masalah kriminalitas. Atau menyaksikan tindakan kriminalitas? Laporkan ke Youtube!
Prosedurnya mudah, tidak perlu keluar rumah, tak perlu isi formulir, tak perlu dicurigai, tak perlu diinterogasi, tak perlu dibuatkan berita acara, tak perlu tanda tangan. Asal ada koneksi internet, cukup bikin akun Youtube. Maka setiap saat kita bisa memanfaatkannya. Tentu saja Anda harus punya materi untuk di upload ke Youtube. Ada rekaman digital.

Polisi terus kerjanya apa, dong?

Ya, polisi tinggal kebakaran jenggot aja –kalau emang punya jenggot, kebanyakan sih polisi klimis-klimis, jadi gak bakalan kebakaran jenggot. Adanya paling kumis, yang bisa menegakkan bulu roma rakyat. Alias menakutkan. Oke,... kebakaran apa kek, yang penting setelah rame di publikasikan, maka polisi jadi kerja, menindaklanjuti keresahan rakyat. Tapi kalau tidak ada aduan, apakah polisi akan bekerja? Seharusnya sih tidak. Tapi apakah aduan secara massal melalui Youtube, lalu diberitakan oleh koran, TV, media online, tidak lebih dari cukup sebagai aduan yang harus ditindaklanjuti.

Mestinya memang demikian. Tapi kenyataan memang sering berbeda dengan harapan. Setidaknya di negara ini.

Di lingkungan rumah ada spanduk yang dikeluarkan instansi kepolisian. Bunyinya, “Awas Pencuri Ranmor Ada di Sekitar Anda. Waspadalah!” Membaca spanduk ini, saya tersenyum kecut. Lha, kalau polisi sudah tau ada pencuri, ya tangkap dong. Masak Cuma nyuruh kita waspada doang. Kalau kecolongan, meskipun sudah waspada gimana, dong?
(“Ya, lapor dong, biar dapat surat untuk dipakai lapor ke leasing! Biar bisa dapat ganti motor baru.”)

Lapor ke polisi memang –kebanyakan- hasilnya tak lebih dari selembar berita acara doangan. Jadi teringat saat saya kecopetan di bis antar kota antar propinsi dalam perjalanan Yogya – Jakarta. Saya sadar telah kecopetan ketika habis istirahat makan di Subang. Melihat saya bokek, teman duduk saya, mahasiswa Jepang yang sedang kuliah di UGM, kasih uang saya untuk pegangan.

Selain uang, di dompet juga ada kartu ATM, SIM, kartu Jamsostek dll.  Sampai di Cikarang, saya harus blokir semua kartu ATM. Dan melapor ke Polsek. Tujuannya agar saya bisa menjadapatkan berita acara, dan saya bisa mendapatkan ATM baru dari bank.

Ke kantor polisi saya ajak anak saya yang waktu itu masih SD. Dalam perjalanan pulang dia bertanya, “Ayah, emangnya kalau lapor polisi, dompet ayah bisa kembali?” Saya lupa jawaban saya persisnya kayak apa. Tapi saya ingat waktu itu saya jawab dengan jawaban positif demi mengajarkan anak saya agar tidak membenci polisi di usia terlalu dini.

Meskipun dompet itu tak bakalan kembali. Meskipun jawaban itu berarti saya bohong kepada anak saya.

Beberapa bulan yang lalu rumah adik saya disatroni maling. Kerugian material lebih dari 40 juta. Lagi-lagi melapor polisi ternyata cuma untuk dapat selembar berita acara doang. Sampai kini tak ada kabar berita lagi. Menyisir sidik jari dan menangkap penjahat  cuma ada di film. Setelah itu adik saya trauma dan mengganti semua kunci rumah, dan memberi teralis pada setiap lubang menganga menuju masuk rumahnya.

Mundur jauh ke belakang, saya pernah mengalami penipuan. Ketika sadar, saya langsung melapor ke polsek terdekat. Walhasil setiap pekan pada beberapa pekan kemudian saya harus mampir ke polsek tersebut untuk mengetahui perkembangannya. Dan setiap pekan itu pula saya harus mengeluarkan uang operasional bagi ‘penyidik’. Sampai akhirnya saya capek. Dan tak ada lagi kabar beritanya. Masalahpun saya lupakan dan ikhlaskan. Meskipun sampai sekarang tak pernah lupa dan tak pernah ikhlas.

Kini zaman lebih modern, ada rumah pake CCTV, ada hape untuk merekam kejadian. Lalu ada Youtube untuk menyebar informasi. Sementara polisi belum berubah cara kerjanya. Padahal teknologi informasi semakin pesat kemajuannya. Maka polisi jadi semakin tampak tertinggal profesionalismenya. Maka tak aneh, jika pemilik rumah yang disatroni pencuri necis, yang memiliki rekaman CCTV tak mau lagi melapor ke polisi. Karena "melapor" ke Youtube lebih efektif.

Kita juga akan melakukan hal yang sama. Kecuali kalau kita hanya butuh selembar “Berita Acara”.    

Senin, 28 November 2011

Dilema Kemarau


Musim kemarau agaknya masih panjang. Hujan yang turun sejak awal bulan ini, ternyata hanya sesekali. Yang banyak adalah panas kemarau yang terik di berbagai belahan daerah di Indonesia. Kalau sudah panas menyengat, banyak berita sawah kekeringan, dan ternak kekurangan air minum. Gambar tanah retak banyak menghiasi koran, majalh dan TV.

Lalu teringat Rasulullah mengajarkan kita melaksanakan istisqo'. Sholat minta hujan. Umat Islam berbondong-bondong ke lapangan melaksanakan shalat sunnah dan berdoa agar Allah segera menurunkan hujan.

Kalau sedang musim kemarau begini memang panas terik serasa siksaan. Maka guyuran hujan menjadi rahmat yang dinanti-nantikan. Maka shalat istisqo menjadi andalan. Dan di beberapa daerah, terlihat mulai turun hujan.

Hujan adalah rahmat. Hujan adalah kebaikan. Ini yang banyak kita baca di Al Quran. Hujan akan menghidupkan bumi yang mati. Tanah yang tandus. Hasil pertanian yang kerontang.

Tapi di negeri ini, Indonesia, sebagian kita ragu mengakui hujan adalah rahmat. Karena saat musim hujan justru banyak penduduk yang rumahnya terendam air. Lalu mereka mengungsi ke tempat tinggi. Di tenda, di sekolah, di masjid. Dengan fasilitas yang tak juga membaik dari tahun ke tahun. Meskipun banjir sudah jadi langganan. Maka setelah banjir ada saja korbannya. Kerusakan bangunan, penyakit, bahkan jiwa.

Maka di saat kemarau seperti ini. Doa kita sering tak tulus dimohonkan kepada Allah. Meskipun di satu sisi kita rindu dengan guyuran hujan. Di sisi lain, kita takut kebanjiran. Maka doapun tak dilantunkan dengan lepas. Maka Allahpun memperpanjang kemarau di negeri ini.

Inikah dilema doa di Indonesia?
Inikah namanya keberkahan yang mulai dicabut?
Kenapa?

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami (Allah) akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi." (Al A'raf : 96)

Jumpa Lagi...!

Wah, lama juga ya saya gak menulis di blog ini. Padahal menulis itu mengasyikkan.
Ada beberapa sebab saya lama absen menulis.
1. Laptop rusak. Tadinya cuma rusak LCD monitornya. Tapi yang ini masih bisa diakali dengan menggunakan PC monitor. Maklum kalau diservis biayanya mahal. Alias gak ada anggaran untuk perbaikannya.

Setelah itu rusak sistemnya jadi harus diinstal ulang. Sudah dibawa untuk intall ulang dan nginep lebih dari seminggu... eh ketika saya jemput, dia bilang, "gak bisa, Pak karena monitornya gak bisa nyala." Waduh, mati aku, rupanya selama ini dia gak paham. Waktu kuserahkan laptopku, saya sudah bilang kalau monitornya mati dan bisa pake PC monitor dengan kabel. Wal hasil, kutarik aja laptopku itu. Kesel.

2. Banyak kejadian menarik untuk ditulis. Lho mestinya tulisanku makin banyak, dong ... Iya sih, tapi ada kejadian yang lebih menarik. Yaitu masalah keluarga yang tak mungkin kutulis dan di-share di blog. Walhasil aku jadinya gak punya waktu untuk menulis. Jadi kalau kalau Anda melihat dan membaca tulisan ini, bukan berarti masalah saya sudah beres. Tapi karena ada 3 alasan. Yaitu, pertama, saya lagi bete menghadapi masalah di "dalam negeri". Kedua, karena saya sudah dapat pinjaman laptop. Ketiga karena saya pengen ngetes, apakah saya masih ingat atau tidak password saya untuk masuk ke blog ini.

3. Malas. Ini alasan yang paling tidak menarik sebenarnya. Malas adalah adalah akar dari semua terbengkalainya pekerjaan. Tapi ini saya perlu tulis. Karena malas ini berhubungan dengan zaman kini. Sejak ada laptop atau komputer saya memang jadi malas menulis di atas kertas. Kalau dipaksakan, tulisan saya akan berangsur-berangsur berubah. Dari rapih dan jelas, karena ditulis dengan huruf cetak. Lama-lama (atau tidak terlalu lama) Anda akan melihat tulisan saya berubah jadi gambar "cakar ayam". Yang hanya pantas jika itu dilakukan oleh dokter. Itupun khusus untuk menulis resep obat. Bukan kwitansi.

4. Tak ada waktu. Ini juga alasan yang mengada-ada sebenarnya. Kalau dipikir-pikir semua orang punya jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam per hari. Mana ada, seorang yang super sibuk bisa melakukan banyak kegiatan dalam sehari. Sementara saya yang "superbusa" (capek ngomong doang), merasa gak punya cukup waktu untuk menulis barang selembar dua lembar. Bahkan menulis yang ecek-ecek seperti tulisan yang sedang Anda baca ini. Mana mungkin....??? Jadi intinya pasti karena malas. ... (Wah, ini jadi masuk ke alasan ketiga dong...). Entahlah, yang jelas, selama ini saya merasa 24 jam per hari itu kurang... Atau jangan-jangan saya harus mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang produktif 'kali ya.... seperti.... (lihat alasan ke 5)

5. Terlalu banyak nonton obrolan politik. Ya... ini benar-benar sering menyita waktuku. Seperti jam-jam segini (jam 10-11 siang, saat nulis tulisan ecek-ecek ini) biasanya saya sedang nonton obrolan di 2 stasiun TV sekaligus. Sering obrolan ini bikin kesel, apalagi kalau narasumbernya tidak menunjukkan intelektualasnya, tapi hanya menonjolkan syahwat politiknya. Tapi meskipun ngeselin, kok ya bisa-bisanya saya terpancang kaku di depan TV jam-jam segini.  Kalau bosen nonton TV, lalu aku melakukan .... (alasan ke-6).

6. Fesbukan. Jama'ah ini memang paling banyak pengikutnya. Lebih berbahaya sebenarnya daripada jama'ah-jama'ah yang sering dituduh sebagai teroris. Bayangkan gara-gara fesbukan, para anggotanya -jama'ah fesbukiyah-  banyak menyia-nyiakan waktu produktifnya. Yang kasihan para majikannya. Karyawan tidak produktif gara-gara sibuk update status dan komen status teman. Orang tua juga jadi nomor sekian di rumahnya. Anak-anak lebih suka curhat ke wall daripada kepada orang tuanya. Udah gitu, anak-anak lebih suka baca komen teman-temannya daripada komen orang tuanya yang penuh nasihat. Alasannya komen ortu gak gaul banget.

Contoh:
Status anak: sebel, pacar selingkuh!
Komen teman1: cari aja pacar lain....
Komen teman2: emang cuma dia doang yang bisa selingkuh!
Komen teman3: pecat aja, cari gantinya.
Komen ortu: Makanya jangan pacaran, pacaran dilarang agama.

Komen teman1, 2, 3 di like.
Komen ortu di remove!

(Lho, kok jadi ngomongin fesbuk orang, ya....)

7. Alasan ke 7, apa ya..... Udah ah... gak usah dicari-cari. Toh, saya sudah nulis lagi. Yang namanya alasan pasti jumlahnya lebih banyak daripada jumlah yang sebenarnya. Jadi kalau di atas saya sudah nulis 6 alasan, sebenarnya sih gak sebanyak itu. ....Lho, lalu kenapa alasan-alasan itu saya tulis? Biar saya ada bahan aja untuk menulis lagi di blog ini.


Jumpa lagi, nice to see you again! 

Kamis, 18 Agustus 2011

MENTAL PENGEMIS

“Pak, minta, Pak….” Kata seorang pengemis.
”Kamu belum makan ya.” jawab orang yang diminta.
”Nih, 10.000,-” yang diminta menyodorkan uang sepuluh ribuan.
Pengemis menerima, lalu ....
”Ini Pak, kembaliannya 8.000.-.” kata pengemis sambil memberikan kembalian.
”Lho, kok pake kembalian?”
”Iya, saya Cuma butuh dua ribu untuk beli pulsa...”

Ini kurang lebih dialog yang terjadi pada iklan sebuah operator selluler di radio. Mendengar iklan ini saya nyopir ”angkot” saya sambil senyam senyum.

Ini mah PENGEMIS BANGET. Entah si penulis skrip iklan yang gak teliti atau itu memang sengaja mengupas mental pengemis. Gak butuh duit tapi tetap minta-minta. Cuma butuh dua ribu untuk beli pulsa tetap minta orang, padahal dia punya kembalian delapan ribu. Kalau dia pakai kan masih sisa enam ribu.

Mental pengemis ini memang menyedihkan. Dia mau uang banyak tapi malas bekerja. Dia sudah punya uang tapi masih terus meminta-minta.

Tapi kalau dipikir-pikir mental pengemis ini juga sudah mulai melanda banyak orang. Bahkan para pejabat –baik swasta maupun pemerintah. Gajinya sudah gede, tunjangan jabatannya sudah gede. Bahkan untuk pejabat publik seperti Bupati, Walikota, Gubernur sampai Presiden dan Menteri-Menterinya, tunjangannya bejibun. Ibaratnya recehan untuk ke toilet umum aja ada tunjangannya.

Kayak gitu masih juga minta-minta.

Jadi teringat seorang pejabat bea cukai di hanggar sebuah perusahaan tempat saya dulu pernah mampir ’hidup’. Dia minta uang pulsa untuk dia dan anak-anaknya. Wow.... sama persis dengan iklan di atas. Tapi mintanya sampai seratus ribu. Bedanya Cuma jumlahnya, tapi mentalnya sama. Sudah banyak dapat dari mana-mana, beli pulsa aja minta.

Pejabat koruptor juga begitu, minta disuapin terus, padahal uang di rekeningnya yang milyaran gak bakalan habis dipakai. Tapi masih minta-minta terus.

Hendaknya para koruptor mencermati sabda Rasulullah tentang peminta-minta ini. Kita juga ding, biar gak sampai bermental koruptor –eh pengemis:

“Sesungguhnya meminta-minta itu sama dengan luka-luka yang dengan meminta-minta itu berarti seseorang melukai mukanya sendiri. Oleh karena itu, siapa mau silakan menetapkan luka itu pada mukanya, dan siapa mau silakan meninggalkan, kecuali meminta kepada sultan atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain.” (HR Abu Daud dan Nasai)

Islam lebih mengajarkan bekerja daripada meminta-minta. Kata Rasulullah, “Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (Mutafaq’alaih)


Bahkan bagi yang masih mampu atau memiliki kekuatan untuk bekerja Rasulullah mengharamkan sedekah baginya.  “Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.”(HR Tarmidzi)


Sekarang ini mengemis atau meminta-minta malah dijadikan profesi. Seorang pengemis penghasilannya lebih tinggi daripada upah minimum kabupaten. Banyak yang memiliki rumah layak di kampung halaman. Para pejabat yang juga doyan minta-minta uang tanda tangan juga demikian. Gajinya sudah lebih dari cukup. Sepuluh tahun terakhir ini PNS dimanja pemerintah dengan kenaikan gaji dan remunerasi. Anggota DPR DPRD juga demikian. Kepala Daerah, Kepala Dinas dan lain-lain juga demikian. Mereka gak puas dengan penghasilannya dan pengen lebih kaya – kaya – dan kaya lagi. (Nggak semuanya sih kayak gini).


Mungkin mereka belum pernah mendengar ucapan Rasulullah ini, ”Siapa yg meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat dan makan batu dari neraka jahanam. Oleh karena itu, siapa yg mau silakan minta sedikit dan siapa yg mau silakan minta sebanyak-banyaknya.” (HR Tarmidzi)


Jadi kalau saya kasihan sama pengemis --baik yang compang-camping di pinggir jalan, maupun yang berkemeja rapih, berdasi, baju safari di kantor-kantor—itu semata-mata kasihan kenapa mereka belum menghayati pernyataan Rasulullah ini.

Semoga saja bukan karena cuek.....
 
Cikarang Baru 12 Agustus 2011