"Tapi gak papa, kerja di pabrik perlu, biar tau bagaimana memasuki dunia kerja." katanya.
Rabu, 17 Februari 2010
Sekolah Tinggi atau Penghasilan Tinggi?
"Tapi gak papa, kerja di pabrik perlu, biar tau bagaimana memasuki dunia kerja." katanya.
Selasa, 09 Februari 2010
KASIH SAYANG
Allah sendiri memiliki nama-nama di antaranya Arrahman (Yang Maha Pengasih) dan Arrahim (Yang Maha Penyayang). Setiap melaksanakan amal baik kita selalu melafalkan Bismillahirrohmaanirrahiim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maka sebagai muslim pantas saja jika kita berusaha keras manjadi manusia yang menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia. Menebakan rahmat bagi semesta alam.
Kasih sayang diwujudkan dalam berbagai bentuk: Kasih sayang kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada lingkungan alam semesta.
Dalam tulisan ini saya akan menulis sedikit tentang kasih sayang sesama manusia, diantaranya:
1. Mengasihi dan menghormati orang tua.
Ayah dan Ibu kita berjasa sangat besar kepada kita. Sejak di dalam kandungan hingga kita bisa mandiri secara akidah, akhlah dan finansial adalah atas pengorbanan orang tua kita. Seorang bisa menjadi manusia soleh solihah, menjadi pejabat publik, tokoh masyarakat, menjadi profesional, atau pengusaha sukses adalah karena sentuhan kasih sayang orang tua. Mereka telah berkorban dengan susah payah membiayai sekolah kita. Menyemangati dan mendoakan kita. Pantaslah mereka mendapatkan kasih sayang kita.
2. Mengasihi dan menyayangi kakak dan adik kita.
Sebagai saudara kakak-beradik tentu memiliki ikatan yang sangat dekat. Jika kita bisa berbaik hati dan menyayangi teman-teman, maka selayaknya kita bisa lakukan hal yang sama kepada kakak-adik kita. Bahkan lebih baik lagi.
3. Menyayangi tetangga kita.
Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita secara fisik. Bisa saja kita memiliki saudara kandung yang baik dan penuh perhatian. Tetapi karena mereka jauh dari tempat tinggal kita, maka tetangga adalah orang yang pertama datang menolong kita jika kita mendapatkan musibah. Maka wajar jika Rasulullah menekankan pentingnya berbuat baik kepada tetangga.
"Tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang tidur nyenyak sedangkan tetangganya kelaparan."
4. Mengasihi suami, istri dan anak-anak.
Kasih sayang suami kepada istri dan sebaliknya istri kepada suami telah dijanjikan Allah jika kita mengikuti ajaran-Nya. Melalui lembaga pernikahan, Islam mengatur hubungan suami istri dengan kasih sayang sehingga tercipta keluarga sakinah, mawaddah wa ramah. Keluarga yang memberi ketenangan hidup, penuh cinta dan kasih sayang. Dari keluarga yang demikian akan lahir generasi penerus yang sholeh dan sholihah.
Anak soleh dan solihah adalah investasi sangat berharga bagi para orang tua. Karena merekalah nanti yang akan mendoakan kita para orang tua saat kita meninggal nanti. Saat di mana amalan terputus kecuali 3 hal yaitu ilmu kita yang bermanfaat, amal jariah dan anak soleh yang senantiasa mendoakan kita.
5. Mengasihi anak yatim dan dhuafa.
Di dalam harta kita ada sebagian hak kaum duafa. Islam mengajarkan sedekah sebagai pensucian dari harta kita. Sekaligus bentuk kepedulian kepada para dhuafa. Demikian juga dengan penyantunan kapada yatim piatu.
"Aku dan anak yatim seperti ini di surga" demikian kata Rasulullah sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Tanda dekatnya Rasulullah dengan anak yatim.
O betapa indahnya kasih sayang yang diajarkan oleh Islam. Semua kasih sayang murni, dan dibanjiri dengan kebaikan dan keberkahan. Tak hanya di dunia, tapi sampai imbalan surga.
Jangan kotori ajaran kasih sayang Islam dengan ajaran kasih sayang lainnya. Say no to Valentine day yang sempit dan justru menebarkan kemaksiatan, menuai dosa dan kehinaan.
Salam Kasih Sayang
Cikarang Baru, 24 Shafar 1431H/9 Februari 2010
Selasa, 19 Januari 2010
HANDPHONE
Senin, 18 Januari 2010
BAHASA
Sabtu, 16 Januari 2010
MENDADAK
Tadi pagi seusai shalat subuh, di masjid diumumkan bahwa seorang teman kami, orang tua kami, guru kami, imam masjid kami telah berpulang ke rahmatullah jam 2 dini hari.
Pengumuman seseorang meninggal dunia adalah hal biasa, karena setiap orang pasti meninggal dunia. Tapi ketika mengenal siapa yang meninggal dunia, sering kita terhenyak kaget. Apalagi jika tidak didahului dengan sakit serius. Demikian juga yang saya dan beberapa teman jamaah masjid rasakan pagi ini. Kami kaget, seperti tak percaya. “Masak sih, kemarin masih jadi imam shalat maghrib?” Sebuah pernyataan ketidakpercayaan meskipun tak berarti menganggap ini berita bohong. Karena kami telah diajari bahwa setiap yang berjiwa pasti mengalami kematian.
Tapi secara akal manusia, memang banyak yang menganggap kematian ini sangat mendadak. Terbayang, sholat Jum’at masih menjadi imam, mahgrib juga demikian. Isya shalat juga di masjid meski jadi makmum. Lalu jam dua belas malam di bawa ke klinik terdekat, kemudian jam setengah dua meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit yang lebih besar.
Sering kita mendengar dalam pengajian bahwa kematian itu pasti datang. Dan Allah telah memberi tanda-tandanya. Sebagaimana kepada Nabi Daud, berupa rambut yang berubah memutih. Setiap umur kita bertambah itu adalah perjalanan pasti menuju kematian. Setiap mata yang semakin lamur, itu adalah tanda-tanda usia semakin udzur. Ketika badan semakin ringkih, itu adalah pertanda kita harus semakin paham kemana arah kehidupan kita. Ketika kekuatan tubuh semakin berkurang, tanda-tandanya masa kontrak hidup kita di dunia ini juga semakin berkurang.
Tapi rasanya berita itu tetap seperti mendadak!
Pantas saja ketika Rasulullah yang sangat-sangat dekat dihati para sahabat diumumkan meninggal dunia, ada saja para sahabat mulia yang tak mempercayainya. Seakan kehidupan yang indah ini, kalau boleh kita nikmatilah selama-lamanya. Seakan kebersamaan dengan Rasulullah mulia itu tak boleh dihentikan oleh waktu. Seakan semangat jihad ini tak semestinya dihentikan oleh kematian.
Ya, semangat hidup sering membuat kita lupa akan datangnya kematian. Meskipun tanda-tandanya hadir di dalam jasad kita, maunya besok kita masih hidup. Meskipun tanda-tanda di sekitar kita berupa anak-anak yang semakin beranjak dewasa telah hadir di pelupuk mata, seakan masih saja kita merasa bakal hidup terus sampai beberapa tahun ke depan.
Ya, semangat hidup memjadikan kita terlena dengan kematian yang bisa jadi sudah dekat disekitar kita. Jadi kematian itu bukan mendadak datangnya. Hanya diri kita saja yang tak siap menyongsongnya.
Jika demikian halnya, sebaiknyalah kita bersiaga. Ayo… bersiap siagalah!
Cikarang Baru, 30 Muharram 1431/16 Januari 2010
Jumat, 08 Januari 2010
JEJAK
Saat belajar kepanduan kita pernah diajarkan membaca jejak beberapa binatang buas. Tujuannya kalau menemukan jejak kaki binatang buas itu, kita bisa mengukur sedang berada di mana kita. Berarti jalan yang kita lalui pernah dilewati binatang buas itu. Berarti kita harus lebih waspada. Bahkan jejak bisa berupa rekaman suara, rekaman gambar, link-link elektronik yang terekam oleh mesin pencari mbah Google.
Ternyata banyak sekali saya telah meninggalkan jejak di dunia maya. Mulai dari tulisan saya sendiri dalam beberapa blog pribadi, tulisan di milis 4-5 tahun yang lalu, komentar saya atas beberapa tulisan di blog milik teman, sampai tulisan teman yang ‘ngrasani’ saya dengan menyebut-nyebut nama saya di blognya.
Meskipun saya tidak memposting tulisan atau meng-upload foto kegiatan di situs dan blog saya, secara otomatis semua aktifitas saya tercatat rapi dalam mega server yang dioperasikan dan dijaga oleh malaikat pencatat yang setia menjadi sekretaris saya dimanapun saya berada.
Demikian pula dengan Anda.
Dengan memahami hal ini, rasanya kita maklum jika suatu masa di alam lain nanti kita melihat jejak rekam semua kegiatan kita. Bayangkan sekretaris kita tinggal ‘mengetik’ nama kita dalam ‘search engine’ lalu muncul semua aktifitas kita sejak kita lahir sampai kita mati.
O, batapa senangnya ketika sang mesin pencari hanya memunculkan posting dan upload kebaikan saja. Atau minimal kebaikannya lebih banyak dari pada keburukannya.
Sayup-sayup terdengar dalam hatiku lantunan
….. kalla inna kitabal abroori lafii illiyiin…
Cikarang Baru, 22 Muharram 1431H/8 Januari 2010.
Minggu, 03 Januari 2010
Lapang Hati
Acaranya mengkhatamkan Al Quran, tausiyah dan dilanjutkan qiyamullail, shalat subuh dan kuliah subuh. Acara yang penuh isi dan pahala Allah, insya Allah, sangat sayang kalau dilewatkan.
Malam ini, 31 Desember 2009, setelah khotmul Quran, tausiyah diisi oleh Ustadz Syarifuddin Jatnika, Lc. Beliau menyampaikan materi tentang kelapangan hati yang bisa mendatangkan kebahagiaan.
Dan kelapangan hati itu dapat terjadi karena beberapa hal.
1. Tauhid – kekentalan tauhid kita kepada Allah akan melapangkan hati. Aqidah yang kuat akan keesaan Allah, kemahakuasaan Allah, akan melapangkan hati. Sebaliknya kesyirikan menyempitkan hati. Ketika menghadapi masalah kembalilah kepada Allah, maka hati akan tentram. ‘Ala bidzikrillahi tatmainnul quluub. Bukan mencari jalan lain yang berujung mempersekutukan Allah.
Lurusnya motivasi juga menyebabkan hati tentram. Allahu ghayatuna. Allah tujuan kami. Bukan harta, jabatan dan kedudukan. Bukan kesuksesan dunia tapi kesuksesan akhirat. Orang mukmin dikatakan menang dan sukses ketika kakinya menginjakkan kakinya di surga.
2. Ilmu yang bermanfaat – Buah ilmu adalah amal. Jika ilmu tak dibarengi amal maka ilmu itu tak bermanfaat. Amal itu bisa oleh diri sendiri ataupunn oleh orang lain yang mendengar dan membaca ilmu yang kita sampaikan.
Ilmu itu mendahului perkataan dan perbuatan. Bukan sebaliknya. Berkata dan bebuat tanpa ilmu. Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban kita.
Ilmu itu sedikitnya akan bermanfaat. Dan pada banyaknya akan meningkatkan derajat pemilik dan pengamalnya.
3. Amal Sholeh – penuhi hidup kita di dunia ini dengan amal sholeh. Perbuatan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain. Jangan banyak menyia-nyiakan waktu. Karena kita tak pernah tahu berapa jatah waktu yang diberikan Allah kepada masing-masing orang.
Menurut Al Qarni, istirahatnya orang mukmin itu adalah di surga. Jadi selama di dunia tak ada waktu untuk istirahat. Terus bergerak, berkarya dan beribadah.
Rasulullah menjadikan shalatnya sebagai istirahat. Artinya tak ada waktu yang sia-sia. Kecuali nikmat tidur yang memang diberikan Allah kepada kita. Dan digunakan secukupnya saja sehingga dapat merekoveri energi untuk aktifitas dan ibadah selanjutnya.
4. Jauhi maksiyat – Setiap maksiyat akan menghasilkan titik hitam di hati kita. Semakin banyak bermaksiyat, semakin banyak titik-titik hitam mengotori hati kita. Jika dilakukan terus menerus, maka semakin lama hati kita menjadi berkarat. Hati yang berkarat menyebabkan hilangnya sensitivitas atas sinyal-sinyal dari Allah. Hati menjadi sulit tersentuh dengan firman-firman Allah. Ancaman tak menyebabkan hati dan mata menangis. Berita gembira tak bakal menggerakkan hati, mulut dan anggota badan untuk segera berbuat memenuhi panggilan-Nya.
Sebaliknya, dengan menjauhi maksiyat hati menjadi sensitive terhadap panggilan dan teguran Allah. Hati menjadi mudah dan lapang menerima iradah Allah. Maka semua yang diterimanya menjadi syukur dan sabar saja adanya. Itulah kebahagiaan itu.
Referensi:
Ibnu Qayyim Al Jauziah dalam buku La Tahzan karya Syeikh Aid al Qarni.
Mega Mendung, 16 Muharram 1431/1 Januari 2010. Jam 10:51



