Jumat, 26 Februari 2010

SIAPA SALAH

Hampir tiada hari tanpa berantem.
Itulah yang terjadi di rumah kami. Athaya (10) dan Adnan (6) biasanya mengakiri permainannya dengan berantem. Salah satu pasti ada yang nangis. Bahkan bisa jadi dua-duanya nangis. Padahal tadinya bermain bareng. Nonton TV bareng. Belajar bareng. Latihan karate bareng. Yang sering terjadi kakaknya mengajari adiknya. Lalu bercanda. Lalu saling mengusili. Lalu saling tonjok. Lalu nangis bareng.

Dan semua berakhir, jika ayahnya atau ibunya marah. Biasanya lalu kakaknya menyalahkan adiknya. Adiknya yang gak mau disalahin mengatakan bahwa kakaklah yang mulai usil. Demikian juga sebaliknya.

Satu bentakan keras akan mengakhiri perdebatan itu. Lalu meluncur nasihat. Lalu saling salaman minta maaf.

Dan esoknya terjadi lagi. Hampir tiada hari tanpa berantem.

Demikian juga dengan yang terjadi kemarin. Athaya dan Adnan sedang belajar. Ditemani Ibunya. Tiba-tiba Adnan yang duduk di lantai jatuh terlentang. Kepalanya terbentur lantai. Karena tersenggol kaki kakaknya. Ibupun marah. Karena kakaknya usil menyebabkan terjatuhnya adik. Adiknya nangis di pangkuan ibunya. Saking sakitnya, tangisannya cukup keras. Sehingga membuat Ibunya naik darah. Kakak pun dimarahi. Athaya membela diri, bahwa dia tidak usil. Adnan justru yang menyilangkan kakinya.

Ibu tak percaya. Adnan makin keras menangis di pangkuannya.
Ibu menegur Athaya habis-habisan. Athayapun masuk ke kamar. Adnan nangis makin keras.

Sayapun gatel untuk mengomentari,
”Makanya kalau becanda jangan keterlaluan.”

Karena Adnan nangis, Ibu mungkin terpancing emosinya untuk menyalahkan Athaya. Masalahnya Athaya gak mau disalahkan.

”Ibu.....” panggil Adnan.
”Ibu jangan gitu....” kata Adnan di sela-sela tangisnya.
Ibu dan aku gak ngerti.
”Ibu jangan nyalahin mBak Athaya.”
Saya terdiam. Ibunya juga.
”Adnan yang salah. Duduk di depan pintu.” kata Adnan lagi.
”Jangan marahi mBak Athaya. Dia gak salah.”

O.... ternyata, di sela-sela kesakitannya, Adnan masih sadar siapa yang salah dan siapa yang benar. Rasa sakit dan pembelaan Ibu tak membuatnya menyembunyikan kebenaran.
Dia tidak serta-merta menikmati posisinya sebagai orang yang dibela ibunya –dan juga saya- sebagai pemegang otoritas di rumah. Padahal kalau mau dia bisa melanjutkan sandiwaranya dan menikmati penderitaan kakaknya habis-habisan dimarahi ayah dan ibunya.

”O gitu, ya....” kata Ibu. Lalu saya dengar Athaya mendekati ibunya.
Dan Ibupun memeluknya sambil minta maaf telah menumpahkan semua kesalahan kepada Athaya.

Tangis Adnanpun reda.

Cikarang Baru, 9 Robi’ul Awal 1431/24 Februari 2010

Rabu, 17 Februari 2010

Sekolah Tinggi atau Penghasilan Tinggi?

Anak saya mau masuk SMK. Demikian berita yang saya dengar langsung dari anak saya saat liburan semester yang baru lalu. Sekarang ini dia sudah kelas 9.

Saya senang mendengarnya. Terbayang anak saya tiga tahun ke depan akan memiliki ketrampilan yang cukup untuk hidup mandiri. Setelah mandiri, terserah dia mau kuliah sambil berwirausaha atau full berkarir dari kemandiriannya itu dengan dibantu oleh beberapa karyawannya.

Berita ini didengar oleh tetangga dan keluarga lainnya.
Tanggapannya macam-macam. Namun kebanyakan menyayangkan keputusan anak saya itu. Bahkan ada yang mengompori istri saya, agar dia memberi pencerahan kepada anak saya sehingga batal masuk SMK. Katanya kalau masuk SMK, nanti susah masuk perguruan tinggi jenjang strata satu. Paling-paling politeknik. Katanya lagi, kalau masuk SMA masa depannya cerah karena bisa kuliah kemana saja yang dia inginkan. Tentu saja tetap diharapkan bisa masuk jurusan favorit yang nanti bisa siap bekerja di tempat basah dengan gaji gede. Demikian kurang lebih alasan keberatannya.

Hari Ahad sepulang shalat Isya’ saya ngobrol dengan seorang teman yang sekarang sukses jadi pengusaha. Seperti biasa kami ngobrol masalah anak-anak kami yang seusia.
Lalu dia menanyakan tentang anak saya. Saya ceritakan masalah niat anak saya masuk SMK itu.

Tampaknya dia senang mendengarnya.
”Saya juga lulusan SMK, Pak...” katanya. Lalu saya sampaikan tanggapan pesimistik di atas.

Jawabnya, ”Lulusan SMK memang digaji rendah di pabrik. Sedikit di atas anak-anak lulusan SMA bahkan banyak yang disamakan saja dengan lulusan SMA.”

Saya mengangguk-angguk mengiyakan. Teringat dulu waktu kerja di pabrik. Anak buah saya yang lulusan SMK gajinya sama saja dengan yang lulusan SMA meskipun mereka lebih trampil.


"Tapi gak papa, kerja di pabrik perlu, biar tau bagaimana memasuki dunia kerja." katanya.

”Demikian juga lulusan politeknik dan sejenisnya. Meskipun kalau kerja di pabrik gaji dan jabatannya di bawah anak-anak yang lulusan S-1.” lanjutnya.

Saya juga mengamini. Tergambar semua pengalaman kerja di pabrik jaman baheula.

”Makanya lulusan SMK maupun politeknik, gak betah kerja di pabrik. Hampir semua teman kuliah saya dulu, sekarang sudah mandiri sebagai pengusaha. Rata-rata mereka kerja gak sampai 10 tahun di pabrik. Karena digaji kecil, sementara kita merasa punya ketrampilan. Ngapain kerja ikut orang berlama-lama.”

Tiunggggg! .......... Inilah motivasi yang saya tunggu-tunggu.
Karena dianggap rendah secara akademik, maka digaji rendah.
Karena digaji rendah, maka mendingan resign dan bikin bisnis sendiri.
Alhamdulillah sekarang bisa menggaji banyak karyawan, beberapa diantaranya sarjana lulusan perguruan tinggi favorit.

Dalam hati saya berteriak: ”SMK memang BISA!”

Cikarang Baru, 2 Rabiul Awal 1431/17 Februari 2010.

Selasa, 09 Februari 2010

KASIH SAYANG

Kasih sayang adalah salah satu ajaran Islam. Tanpa gembar-gembor kasih sayang sudah melekat dalam Islam.
Allah sendiri memiliki nama-nama di antaranya Arrahman (Yang Maha Pengasih) dan Arrahim (Yang Maha Penyayang). Setiap melaksanakan amal baik kita selalu melafalkan Bismillahirrohmaanirrahiim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maka sebagai muslim pantas saja jika kita berusaha keras manjadi manusia yang menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia. Menebakan rahmat bagi semesta alam.

Kasih sayang diwujudkan dalam berbagai bentuk: Kasih sayang kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada lingkungan alam semesta.

Dalam tulisan ini saya akan menulis sedikit tentang kasih sayang sesama manusia, diantaranya:

1. Mengasihi dan menghormati orang tua.
Ayah dan Ibu kita berjasa sangat besar kepada kita. Sejak di dalam kandungan hingga kita bisa mandiri secara akidah, akhlah dan finansial adalah atas pengorbanan orang tua kita. Seorang bisa menjadi manusia soleh solihah, menjadi pejabat publik, tokoh masyarakat, menjadi profesional, atau pengusaha sukses adalah karena sentuhan kasih sayang orang tua. Mereka telah berkorban dengan susah payah membiayai sekolah kita. Menyemangati dan mendoakan kita. Pantaslah mereka mendapatkan kasih sayang kita.

2. Mengasihi dan menyayangi kakak dan adik kita.
Sebagai saudara kakak-beradik tentu memiliki ikatan yang sangat dekat. Jika kita bisa berbaik hati dan menyayangi teman-teman, maka selayaknya kita bisa lakukan hal yang sama kepada kakak-adik kita. Bahkan lebih baik lagi.

3. Menyayangi tetangga kita.
Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita secara fisik. Bisa saja kita memiliki saudara kandung yang baik dan penuh perhatian. Tetapi karena mereka jauh dari tempat tinggal kita, maka tetangga adalah orang yang pertama datang menolong kita jika kita mendapatkan musibah. Maka wajar jika Rasulullah menekankan pentingnya berbuat baik kepada tetangga.

"Tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang tidur nyenyak sedangkan tetangganya kelaparan."

4. Mengasihi suami, istri dan anak-anak. 
Kasih sayang suami kepada istri dan sebaliknya istri kepada suami telah dijanjikan Allah jika kita mengikuti ajaran-Nya. Melalui lembaga pernikahan, Islam mengatur hubungan suami istri dengan kasih sayang sehingga tercipta keluarga sakinah, mawaddah wa ramah. Keluarga yang memberi ketenangan hidup, penuh cinta dan kasih sayang. Dari keluarga yang demikian akan lahir generasi penerus yang sholeh dan sholihah.

Anak soleh dan solihah adalah investasi sangat berharga bagi para orang tua. Karena merekalah nanti yang akan mendoakan kita para orang tua saat kita meninggal nanti. Saat di mana amalan terputus kecuali 3 hal yaitu ilmu kita yang bermanfaat, amal jariah dan anak soleh yang senantiasa mendoakan kita.

5. Mengasihi anak yatim dan dhuafa.
Di dalam harta kita ada sebagian hak kaum duafa. Islam mengajarkan sedekah sebagai pensucian dari harta kita. Sekaligus bentuk kepedulian kepada para dhuafa. Demikian juga dengan penyantunan kapada yatim piatu.
"Aku dan anak yatim seperti ini di surga" demikian kata Rasulullah sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Tanda dekatnya Rasulullah dengan anak yatim.

O betapa indahnya kasih sayang yang diajarkan oleh Islam. Semua kasih sayang murni, dan dibanjiri dengan kebaikan dan keberkahan. Tak hanya di dunia, tapi sampai imbalan surga.

Jangan kotori ajaran kasih sayang Islam dengan ajaran kasih sayang lainnya. Say no to Valentine day yang sempit dan justru menebarkan kemaksiatan, menuai dosa dan kehinaan.

Salam Kasih Sayang

Cikarang Baru, 24 Shafar 1431H/9 Februari 2010
Catatan ini saya tulis sebagai wujud kasih sayang saya kepada sesama muslim.

Selasa, 19 Januari 2010

HANDPHONE



Siapa yang gak punya hape pada zaman gini? “Hare gene gak punya hape?” demikian bunyi iklan sebuah operator telepon. Ya, hampir semua manusia dewasa yang saya jumpai punya hape. Teman-teman sebaya punya hape semua. Kini bahkan sebagian sudah ganti merek BlackBerry alias BB. Murid-murid SMP pada punya hape. Sambil mengasuh anak kecil pembantu rumah tangga juga ada hape melekat di tangannya.

Hape sudah jadi fenomena. Seakan setiap yang punya tangan punya hape.
Tak terbayangkan 20 tahun yang lalu, kita bisa dipanggil dan memanggil teman, istri dan anak kita setiap saat karena selalu melekat di tangan kita benda yang satu ini.

Tak terbayangkan oleh kita 20 tahun yang lalu, bahwa sebuah jari jempol bisa dipakai mengetik pesan singkat. Jari ini dengan lincahnya berpindah-pindah dari satu huruf ke huruf yang lain. O… inilah salah satu gunanya Allah memberikan sendi pelana pada jempol kita.

Gara-gara hape maka tugas imam shalat di masjid bertambah satu. Selain mengingatkan agar jamaah merapatkan dan meluruskan shafnya, imam juga mengingatkan jamaah agar mematikan hapenya sebelum shalat dimulai. Sering terjadi saat jamaah sedang khusyu’ shalat. Ketika syahdu mendengarkan lantunan merdu bacaan ayat Quran dari imam masjid, tiba-tiba lagu dangdut dari hape seorang jamaah menyeruak memenuhi ruangan masjid. Tak jarang pula tiba-tiba ada ayam berkokok sebagai tanda ada panggilan telpon. Atau tiba-tiba ada adzan dari sebuah hape.

Semua itu jelas mengganggu kekhusyukan shalat.

Dulu ada larangan memainkan musik di dalam masjid, kini jangankan marawis atau nasyid islami, lagu bertema jorokpun sering nyelonong masuk ke masjid melalui hape jamaahnya.

Saat memasuki sebuah masjid di Bekasi saya membaca kaligrafi doa masuk masjid terlukis indah di pintu gerbangnya. Di dalam masjid banyak goresan kaligrafi ayat-ayat al quran. Kini saat memasuki sebuah masjid ada tulisan tambahan yang tercetak diatas vinil dengan teknologi digital printing: “Harap mematikan HP”. Ketika sampai di dalamnya, di dinding masjid ada beberapa stiker yang bergambar hape dicoret, yang artinya sama: “Harap mematikan HP”.

Untung saja tidak didomplengi oleh iklan HP. Mungkin produsen hape belum berani masuk ke ranah ini. Bayangkan misalnya ada gambar HP dicoret lalu dibawahnya tertulis “Pesan ini disampaikan oleh NO***”.  Bisa untuk menambah kas masjid, deh…..

Suatu pagi saya berjalan-jalan di sekitar rumah. Saya melihat ada 2 orang pembantu rumah tetangga. Mereka sedang mengasuh atau menyuapi anak majikannya yang duduk di atas kereta bayi. Terdengar lantunan lagu-lagu percintaan mengalun dari radio hape mereka yang digeletakkan di kereta bayi itu. Sementara mereka asyik ngobrol.

O…. seandainya saja yang keluar dari radio hape itu alunan murottal ayat-ayat al Quran, betapa besar manfaatnya bagi perkembangan otak bayi-bayi itu.

Cikarang Baru, 3 Shafar 1430/19 Januari 2010
Choirul Asyhar
Owner Muslimart

Senin, 18 Januari 2010

BAHASA


Waktu SD kita belajar sebuah peribahasa “Bahasa menunjukkan bangsa”. Maknanya dari cara kita berbudibahasa dapat diketahui bagaimana karakter kita sebagai bangsa. Bahasa juga sebuah produk budaya suatu komunitas masyarakat. Maka kualitas bahasa itu menunjukkan tinggi rendahnya budaya komunitas tersebut.

Melalui bahasa kita bisa berkomunikasi satu sama lain. Baik lisan maupun tulisan.
Jika bertatap muka kita menggunakan bahasa lisan, jika jarak jauh menggunakan bahasa tulisan. Lalu dengan perkembangan teknologi, muncullah telepon yang dapat mentransfer gelombang suara kita sehingga komunikasi lisan bisa menjangkau jarak ribuan kilometer.

Tapi kini, semakin peliknya hubungan masyarakat, semakin banyak lagi alat komunikasi. Bahasa tulisan dan bahasa lisan tak cukup. Telephon, handphone, SMS dan email tidak cukup. Lalu ada bahasa tubuh. Senyum, kerlingan mata, anggukan badan. Itupun masih kurang. ….. Sehingga muncullah bahasa uang!

Anehnya secanggih dan sesopan apapun bahasa kita, masalah belum bakal dimengerti sebelum dibantu dengan bahasa uang. Bahasa uang sudah mengalahkan bahasa Internasional.

“Ya, kalau gak pakai uang, mana mau rakyat memilih saya.” Demikian kata seorang politikus.

“Kalau gak ‘menanam’ orang dalam, barang kita gak bakalan bisa masuk.” Kata seorang supplier. Meskipun bahasanya menanam berbau ilmu pertaninan, tapi maksudnya jelas yaitu memberi komisi.

“Agar barang kita bisa dipakai terus, kita harus “maintain” Pak Anu.” Kata supplier yang takut diputus kontraknya.

“Ini bukan suap, Pak. Ini profit sharing dari jatah komisi penjualan saya bulan ini.” Demikian kata seorang sales sambil menyodorkan amplop.

 “Kalau gak ada pelurunya, emang saya tanda tangan sambil menyanyikan lagi Padamu Negeri?” kata seorang pejabat, saat saya harus mengurus impor barang. Kalau yang gak tahu bahwa ini bahasa uang, pasti bingung. Ada peluru yang biasa dibawa-bawa tentara dan penjahat. Ada pula lagu Padamu Negeri, yang kalau kita nyanyikan dengan penghayatan bisa membangkitkan rasa nasionalisme tersendiri.

“Ini resikonya besar, Mas. Jadi saya harus menghadap berbagai jajaran agar bisa memperkecil resiko.” Kata seorang pejabat kepabeanan ketika forwarder mau memasukkan barang dengan nilai undervalue.

Kalau pembaca bisa menangkap makna kalimat di atas berarti pembaca sudah paham bahasa uang.
Baiklah, bagi yang belum paham, mari kita buka kamus bahasa uang:

Menanam = memberi komisi kepada orang dalam sehingga dia tidak obyektif lagi terhadap kualitas produk supplier.

Maintain = memelihara orang dalam agar tidak lupa sama suppliernya dan tak bisa berpaling ke lain supplier.

Profit sharing = pembagian keuntungan. Karena si pejabat memberi order, si sales tahu diri membagi komisi penjualan yang diterima dari kantornya. Tapi jangan lupa, si pejabat lain kali harus tahu diri juga membagi ordernya kepada si sales.

Amplop = aslinya sih tempat surat, tapi di era email dan SMS fungsinya berubah jadi tempat menyelipkan uang. Jangan coba-coba memberi amplop kosong.

Peluru = bekal untuk menyogok.

Menyogok = memberi uang pelicin agar urusan gampang selesai. Jadi jangan pakai kayu, nanti dikira ngajak berantem.

Padamu Negeri = … ini nama lagu. Di dalamnya ada syairnya yang berisi pengabdian dan pengorbanan jiwa raga. Jadi si pejabat emoh gak dapat apa-apa.

Menghadap = artinya memang menghadap kepada atasan, kolega dan lain-lain, tapi agar dipahami maksudnya, harus disisipkan beberapa lembar uang yang asli dan masih laku di pasaran.

Belakangan dengan bahasa uang banyak kejadian aneh di Indonesia. Seperti anggota dewan membocorkan hasil rapat kepada calon kontraktor biar menang tender. Jaksa main mata sama terperkara. Jaksa telpon-telponan mesra sama koruptor. Pengacara berhonor milyaran mati-matian membela koruptor trilyunan. Makelar membuat scenario bagaimana kasus sebaiknya diatur. Dan yang paling anyar, narapidana tinggal di kamar berfasilitas hotel (bukan hotel prodeo) plus karaoke dan perawatan kecantikan.

Ini semua sukses bisa terjadi karena menggunakan bahasa uang. Bukan bahasa Inggris, Arab, Jepang atau bahasa Indonesia. Meskipun demikian saya tetap berdoa lembaga kursus bahasa Inggris saya tetap laku. Karena masih banyak orang-orang tua yang masih ngotot membekali anak-anaknya dengan ilmu yang lurus. Agar selamat dan sukses dunia akhirat.

Cikarang Baru, 2 Shafar 1431/18 Januari 2010

Choirul Asyhar
Owner Muslimart

Sabtu, 16 Januari 2010

MENDADAK

Tadi pagi seusai shalat subuh, di masjid diumumkan bahwa seorang teman kami, orang tua kami, guru kami, imam masjid kami telah berpulang ke rahmatullah jam 2 dini hari.

Pengumuman seseorang meninggal dunia adalah hal biasa, karena setiap orang pasti meninggal dunia. Tapi ketika mengenal siapa yang meninggal dunia, sering kita terhenyak kaget. Apalagi jika tidak didahului dengan sakit serius. Demikian juga yang saya dan beberapa teman jamaah masjid rasakan pagi ini. Kami kaget, seperti tak percaya. “Masak sih, kemarin masih jadi imam shalat maghrib?” Sebuah pernyataan ketidakpercayaan meskipun tak berarti menganggap ini berita bohong. Karena kami telah diajari bahwa setiap yang berjiwa pasti mengalami kematian.

Tapi secara akal manusia, memang banyak yang menganggap kematian ini sangat mendadak. Terbayang, sholat Jum’at masih menjadi imam, mahgrib juga demikian. Isya shalat juga di masjid meski jadi makmum. Lalu jam dua belas malam di bawa ke klinik terdekat, kemudian jam setengah dua meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit yang lebih besar.

Sering kita mendengar dalam pengajian bahwa kematian itu pasti datang. Dan Allah telah memberi tanda-tandanya. Sebagaimana kepada Nabi Daud, berupa rambut yang berubah memutih. Setiap umur kita bertambah itu adalah perjalanan pasti menuju kematian. Setiap mata yang semakin lamur, itu adalah tanda-tanda usia semakin udzur. Ketika badan semakin ringkih, itu adalah pertanda kita harus semakin paham kemana arah kehidupan kita. Ketika kekuatan tubuh semakin berkurang, tanda-tandanya masa kontrak hidup kita di dunia ini juga semakin berkurang.

Tapi rasanya berita itu tetap seperti mendadak!

Pantas saja ketika Rasulullah yang sangat-sangat dekat dihati para sahabat diumumkan meninggal dunia, ada saja para sahabat mulia yang tak mempercayainya. Seakan kehidupan yang indah ini, kalau boleh kita nikmatilah selama-lamanya. Seakan kebersamaan dengan Rasulullah mulia itu tak boleh dihentikan oleh waktu. Seakan semangat jihad ini tak semestinya dihentikan oleh kematian.

Ya, semangat hidup sering membuat kita lupa akan datangnya kematian. Meskipun tanda-tandanya hadir di dalam jasad kita, maunya besok kita masih hidup. Meskipun tanda-tanda di sekitar kita berupa anak-anak yang semakin beranjak dewasa telah hadir di pelupuk mata, seakan masih saja kita merasa bakal hidup terus sampai beberapa tahun ke depan.

Ya, semangat hidup memjadikan kita terlena dengan kematian yang bisa jadi sudah dekat disekitar kita. Jadi kematian itu bukan mendadak datangnya. Hanya diri kita saja yang tak siap menyongsongnya.

Jika demikian halnya, sebaiknyalah kita bersiaga. Ayo… bersiap siagalah!

Cikarang Baru, 30 Muharram 1431/16 Januari 2010

Jumat, 08 Januari 2010

JEJAK

Saat belajar kepanduan kita pernah diajarkan membaca jejak beberapa binatang buas. Tujuannya kalau menemukan jejak kaki binatang buas itu, kita bisa mengukur sedang berada di mana kita. Berarti jalan yang kita lalui pernah dilewati binatang buas itu. Berarti kita harus lebih waspada.

Dalam film-film detektif kita juga sering melihat bagaimana sang detektif melacak jejak penjahat di TKP. Hendel dan grendel pintu dicek, sisi meja di cek, gelas di cek untuk mendapatkan jejak yang berupa sidik jari.

Kini jejak tak cuma dapat ditangkap melalui bekas telapak kaki, atau sidik jari saja.

Bahkan jejak bisa berupa rekaman suara, rekaman gambar, link-link elektronik yang terekam oleh mesin pencari mbah Google.

Iseng-iseng saya memasukkan nama saya dalam mesin pencarinya mbah Google.

Ternyata banyak sekali saya telah meninggalkan jejak di dunia maya. Mulai dari tulisan saya sendiri dalam beberapa blog pribadi, tulisan di milis 4-5 tahun yang lalu, komentar saya atas beberapa tulisan di blog milik teman, sampai tulisan teman yang ‘ngrasani’ saya dengan menyebut-nyebut nama saya di blognya.

Semua terekam rapih. Jumlahnya lebih banyak daripada yang saya duga!

Terbayang…. seandainya saya sudah mengenal internet sejak puluhan tahun yang lalu, betapa lebih banyak lagi jejak yang saya tebarkan baik secara sadar maupun tanpa kesadaran.

Terbayang ….. Kalau kebaikan yang saya tulis lalu terbaca oleh orang lain dan membuat si pembaca itu melakukan kebaikan, saya pasti mendapatkan pahala dari Allah.

Lalu, jika ternyata yang saya tulis adalah keburukan, kemaksiatan, siasat licik, makar kotor, lalu dibaca orang dan pembacanya terinspirasi untuk melakukan keburukan serupa, betapa berlipatgandanya dosa yang telah saya lakukan.

Memang seingat saya, saya tidak pernah menulis tentang keburukan, kemaksiatan dan sejenisnya. Tapi rasanya pastilah ada saja pembaca yang tersakiti hatinya, karena pemilihan topic dan kata-kata saya yang tak tepat. Jika demikian saya hanya bisa mohon ampun kepada Allah, meskipun saya tak bisa lagi mencabut semua catatan ‘amal’ buruk saya di dunia maya itu.

“Track Record” saya sudah tercatat oleh kecanggihan teknologi informasi ini.

Belakangan ini lalu muncul facebook. Sebagian besar kita mencatatkan semua aktifitas kita di dalamnya. Foto-foto jadulpun bermunculan dicatatkan di dalamnya. Kalau foto yang dicetak di atas kertas foto bisa hancur, di sini foto-foto kita menjadi lebih terjaga.

Kalau teknologi informasi buatan manusia saja bisa mencatat jejak keberadaan saya dan sepak terjangnya dengan teliti, apatah lagi Allah sang pencipta manusia si pencipta teknologi informasi itu.

Meskipun saya tidak memposting tulisan atau meng-upload foto kegiatan di situs dan blog saya, secara otomatis semua aktifitas saya tercatat rapi dalam mega server yang dioperasikan dan dijaga oleh malaikat pencatat yang setia menjadi sekretaris saya dimanapun saya berada.

Demikian pula dengan Anda.

Dengan memahami hal ini, rasanya kita maklum jika suatu masa di alam lain nanti kita melihat jejak rekam semua kegiatan kita. Bayangkan sekretaris kita tinggal ‘mengetik’ nama kita dalam ‘search engine’ lalu muncul semua aktifitas kita sejak kita lahir sampai kita mati.

O, batapa senangnya ketika sang mesin pencari hanya memunculkan posting dan upload kebaikan saja. Atau minimal kebaikannya lebih banyak dari pada keburukannya.

Sayup-sayup terdengar dalam hatiku lantunan surat Al Muthaffifin:

….. kalla inna kitabal abroori lafii illiyiin…

Cikarang Baru, 22 Muharram 1431H/8 Januari 2010.