Selasa, 14 September 2010

Selingan: Fun and Funny


Sebagai selingan, yuk belajar bahasa Inggris, yuk. Siapa tahu kita ketemu David Becham.

Vocabulary

fun
funny
Fun” is a noun but “funny” is an adjective.
We use “fun” like this:
It was fun.
It was really good fun.
I had a lot of fun.
We had a lot of fun.
Did you have fun?
It is difficult to translate. How do you translate it in your language?
Funny means “it makes you laugh” but it has two separate nuances. It can also mean “strange” or “weird” so when somebody says:
That was funny.
We say:
“Do you mean funny-strange or funny-haha?”
Funny-strange
means
“weird”
or
“unusual”
and
Funny-haha
means
“it makes you laugh”.
When we enjoyed something, we do not say:
It was funny.
We say:
It was fun.
or
I had a a good time.
or
I had fun
or
I enjoyed it
or
I enjoyed myself.
“It was funny” has quite a different meaning. In fact it has two meanings:
“It made me laugh”
or
“It was strange”.

Kamis, 02 September 2010

Game Online

Telpon di kantor bimbel IbnuSina berdering. Saya mengangkatnya. Saya lihat jam dinding menunjukkan jam 9.30 malam.
"Assalamu'alaikum." kalimat pembuka saya. Yang diseberang sana menjawabnya. Lalu disambung dengan pertanyaan.
"Pak, Budi (bukan nama sebenarnya) sudah pulang les, Pak?" Tanyanya panik, sehingga lupa memperkenalkan dirinya, bahwa dia Ibu si Budi. 
Saya kaget. Bukan karena sudah jelas jam segini les sudah bubaran satu jam yang lalu. Tapi, kaget karena sudah sebulan ini Budi tidak datang les di tempat saya. Kalau tidak musim ulangan, memang ada murid yang males belajar. Jadi saya kurang aktif kros cek ke orang tua perihal absen mereka. 
"Maaf, Bu. Budi sudah sebulan ini tidak les."
"Apa, Pak? Masak, dia setiap hari pamitan les, lho, Pak!" 
"Tadi temannya bilang, ketemu Budi di depan warnet." Tanpa banyak bicara Ibu Budi segera menutup pembicaraannya. Ada nada geram di seberang sana.
Ini bukan pertama kali terjadi di bimbel saya. Beberapa bulan sebelumnya, ada laporan yang sama dari seorang murid. Dan saya saat itu langsung menghubungi orang tuanya. Dan orang tuanya benar-benar kaget dengan penjelasan ini.
Game Online memang sudah seperti candu baru di lingkungan kita. Anak-anak tidak gaul kalau tidak mengenal game online. Di kelas obrolan murid-murid juga sekitar istilah-istilah dalam game online itu. Anak-anak jadi tidak bisa konsentrasi belajar. Bahkan di masjid pun, sebelum dan sesudah shalat, anak-anak juga ngobrolin prestasinya dalam game online. Permainan ini sungguh meresahkan. Memboroskan uang. Menurunkan prestasi belajar. Bahkan mungkin juga membuat anak-anak berani menilep uang les-nya. 
Orang tua resah, tapi makin banyak saja warnet game online di Cikarang Baru ini. Di Rusa Raya saja ada lebih dari 3 warnet yang salah satu menunya pasti game online itu. Di ruko Gardenia, tak kurang dari 3. Di Ruko Anggrek juga demikian. Belum lagi yang ada di rumah-rumah pemukiman.
"Ayah, buka warnet aja, yah..." saran anak saya empat tahun yang lalu. Dia tahu bisnis ini bisa jadi sumber uang. 
"Ayah gak pengen. Kasihan sama anak-anak yang nantinya jadi lupa waktu. Lupa belajar." jawab saya waktu itu.
"Ya, itu kan urusan mereka." jawab anak saya.
"Ooo, gak boleh begitu. Kita kalau bisnis jangan cuma cari keuntungan saja. Lihat dampak lainnya juga. Ayah ikut berdosa kalau mereka melalaikan waktu gara-gara nongkrong di warnet." 
Kini Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo RI  Gatot S. Dewo Broto mengatakan, game online sama bahayanya dengan situs porno yang meresahkan masyarakat. 
"Jika Anda atau anggota masyarakat lain merasa gerah, resah, khawatir, atau terganggu dengan maraknya game online, silakan saja sampaikan pengaduan ke penegak hukum. Dan penegak hukumlah yang berkoordinasi dengan kami di Kominfo dan para penyelenggara ISP," katanya.
Depkominfo melalui Direktur Pemberdayaan Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika RI menyampaikan bahwa tidak sedikit pecandu games online yang sakit-sakitan, bahkan hingga membawa korbannya kepada kematian akibat tidak mengenal waktu dalam mengakses permainan itu.
Senang saya mendengar niat baik pemerintah ini. Bahkan katanya game online dengan situs porno telah diatur sama dalam peraturan undang-undang. Sebenarnya, lanjutnya, yang diatur dalam UU ITE, pada Pasal 27 hingga Pasal 35 adalah berisi larangan konten yang terkait dengan pencemaran nama baik, perjudian, pornografi, SARA, dan sebagainya.

"Terkait game online, bisa masuk ke ranah perjudian. Itu tidak boleh diselancarkan di ranah internet, hukumnya haram," kata Gatot S. Dewa Broto (Hidayatullah.com, Sabtu (28/08)).

Pihaknya meminta agar masyarakat aktif memberikan masukan kepada pemerintah terkait hak-hak yang tidak mengenakkan dan meresahkan.

Umumnya game online yang diakses atau play station yang digemari anak-anak banyak mengandung unsur kekerasan. Akumulasi dari interaksi dengan game berunsur kekerasan itu akan mempengaruhi kepribadian mereka dan membentuk mereka menjadi suka marah dan temperamental.

Minggu, 27 Juni 2010

10 > 16

Setelah maghrib anakku Adnan minta uang gopek. Dari jauh terdengar suara melengking bunyi uap tukang kue putu. Adnan, 6 th, memang doyan kue putu.
”Ayah, aku minta uang gopek.” katanya.
”Untuk apa?” tanyaku.
”Beli kue putu satu.” jawabnya.

Oke, tanpa banyak berdebat aku kasih dia uang gopek. Alasannya pertama karena uang gopek itu uang kecil. Yang kedua kue putu termasuk makanan jajanan yang sehat.
Setelah kuberi gopek, Adnan kabur keluar rumah sambil berteriak nyaring memanggil tukang kue putu. Suara nyaringnya menyaingi suara lengkingan uap kue putu.

Tak berapa lama kemudian Adnan balik lagi dengan tangan hampa.
”Ayah, kue putunya seribuan!” keluhnya.
”Ah... masak seribu??” tanyaku.
”Iya, kata abangnya.” jawabnya.
Karena kasihan melihat mukanya yang kecewa, kurogoh kantongku. Ada uang delapan ribu.
”Udah, beli delapan ribu.” kataku.
Adnan senang lari kabur meninggalkanku. ”Bang....!” teriaknya kepada abang tukang kue outu.

Di dalam rumah aku masih tak percaya harga kue putu sekarang seribu. Sedemikian tinggikan inflasi di negeriku ini. Aku nguping obrolan Adnan dengan tukang kue putu. Kudengar delapan ribu dapat enam belas potong. Lha berarti satunya gopek dong. Kataku dalam hati. Lalu aku menyimpulkan si abang tadi menghargai seribu karena Adnan Cuma mau beli satu potong. Sementara biaya produksinya satu, dua, tiga atau empat potong sama saja. Sekali masak uapnya menyembul dari 4 lubang. Aku lalu maklum dengan perhitungan si abang.

Sambil membawa masuk 16 potong kue putu Adnan bilang: tadi abangnya bilang seribu itu untuk 2 potong. ”Jadi gak boleh beli satu, Yah.” jelasnya. Aku sekali lagi maklum.

Baru menyantap satu potong terdengar Adzan Isya’
”Ayo, sholat dulu.” kataku.
”Jangan dimakan ya...!” kata Adnan kepada kakak sulungnya yang gak sholat karena sedang mendapat tamu bulanan. ”Sampai kita semua pulang dari masjid.” lanjutnya.

Berangkat ke masjid, Adnan melihat tukang putu di pengkolan jalan.
”Yah, kalau lima ribu dapat berapa?” tanyanya.
”Ya, sepuluh.” jawabku.
”Lebih banyak dong....” katanya. Maksudnya daripada 16 potong yang dia beli dengan uang delapan ribunya itu.
”Ah, masak?” kataku sambil ngetes.
”Emang sepuluh sama enam belas banyakan mana?” tanyaku.
”Sepuluh dong!” katanya sambil terus berjalan menuju masjid.
Aku elus kepalanya sambil gemes juga. Adnan tadi pagi menerima rapot kenaikan kelas. Dia naik ke kelas 2 dan dapat ranking 3 di kelasnya. Tadi pagi aku bangga, lha sekarang kok gak tahu mana lebih besar sepuluh atau enam belas.

”Iya, kan yah....” katanya lagi. Lalu sambil terus melangkah menyebarangi lapangan futsal dia berhitung:

”Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan .....” terus dia diam sejenak. Lalu dilanjutkan ”...... ENAM BELAS, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, SEPULUH!”

Aku tersenyum dengan akal-akalannya.
”Iya, kan yah!” katanya.

Ku elus kepala gundulnya. Aku jadi teringat seorang teman pengusaha kuliner yang juga suka membolak-balik urutan angka. Ketika membuka warung bakso yang ke dua, dia tulis di spanduknya CABANG ke-3. Ketika ditanya warung yang pertama di mana? Dia menjawab di suatu tempat. Terus yang kedua di mana?

”Yang kedua baru mau di buka, tapi lokasi yang saya incar belum dapat.” jawabnya ringan.
”Berarti ini yang kedua dong....!”

Rupanya dia menganut paham ketidakteraturan. Masalah urutan itu kan hanya kesepakatan umum. Boleh saja memberi nama warung ke-3 untuk warungnya yang ke-2. Warung ke-10 untuk warungnya yang ke-4 dan sebagainya. Ini katanya aliran otak kanan. Imajinatif. Tidak harus mengikuti pakem pada umumnya.

Katanya pengusaha sukses kebanyakan dominan peran otak kanannya. Jika iya, semoga anakku Adnan nanti jadi pengusaha sukses. Tak peduli sisi mana yang dominan dari otaknya. Harapan saya sih, peran hatinya yang dominan.

Cikarang Baru, 14 Rajab 1431/27 Juni 2010   

Sabtu, 22 Mei 2010

PERSIAPAN

Sebelum bertanding, anakku yang karateka selalu menyiapkan diri jauh-jauh hari. Latihan 3-4 kali sepekan itu sudah biasa. Saya melihatnya sampai heran kok gak cape-capenya dia. Demi tujuan yang jelas, menang dalam pertandingan, maka persiapanpun dilakukan dengan ringan.

Setahun sebelum UN, sekolah-sekolah juga telah membekali murid-muridnya dengan bimbel tambahan. Di luar jam sekolah, mereka dibekali dengan berbagai macam soal-soal try out. Demi lulus gemilang di UN yang sering menakutkan itu. Keinginan lulus UN, menyemangati murid-murid untuk mempersiapkan diri dengan baik.

Demikian juga dengan kita yang mau pulang kampung menjelang lebaran. Dua bulan sebelum lebaran, tiket bis, kereta dan pesawat terbang sudah ludes dibeli para calom pemudik. Ini salah satu persiapan yang dilakukan disamping persiapan-persiapan lainnya.

Persiapan memang harus dilakukan agar tujuan kita tercapai. Jangan mengalir seperti air yang kemanapun ada tempat lebih rendah kesitulah dia mengalir. Hidup di dunia ini juga sebuah perjalanan. Perjalanan menuju kehidupan selanjutnya. Bahkan hidup didunia ini hanya sebuah jembatan saja. Sepanjang apapun jembatan itu, dia jauh lebih pendek daripada daratan yang kesana kita menuju. Selama apapun umur kita di dunia, itu hanya sekejap mata bagi kehidupan kekal di ’daratan’ akhirat nanti.

Maka, selayaknyalah kehidupan yang singkat ini kita penuhi hari-harinya dengan persiapan demi persiapan. Berbenah setiap hari. Masukkan ’baju-baju kita’ ke koper, karena setiap saat mobil travel akan datang menjemput. Jangan lena, walau sekejap. Masukkan selalu baju amal sholeh kita di koper besar kehidupan kita. Pertahankan kualitasnya dengan kamper iman. Lalu selalu perbaharui iman kita dengan siraman ayat-ayat-Nya agar dia tetap menyebarkan aroma wanginya. Pupuk dia dengan nasihat Nabi dan para sahabat agar dia tetap segar.

Kemanapun kita pergi di bumi Allah ini, itu adalah masih dalam rangkaian penantian menunggu travel jemputan yang dikemudikan oleh sang Izrail. Maka bersiap siaga adalah gambaran yang tepat. Seperti tentara yang siap siaga kapanpun saja diperintahkan komandan maju ke medan perang.

Menjelang pulang kampung selalu kita menyiapkan yang terbaik untuk dibawa ke sana.
Kemeja terbaik, gaun terbaik, parfum terbaik, HP terbaik, motor terbaik, mobil terbaik. Meskipun tidak baru, kondisinya sangat prima. Syukur kalau bisa baru. Kalau orang kampung menganggap pamer, biarlah toh ini adalah hasil kerja kita di perantauan.

Jangan salah melakukan persiapan dengan memasukkan bekal buruk kedalam kopor kita, nanti tak berguna. Cuma capek dan pegal kita membawanya. Seorang koruptor telah merencanakan dan mempersiapkan perbuatannya dengan matang. Agar sukses menjadi koruptor kaya. Tapi sesungguhnya dia telah salah memasukkan bekal ke dalam kopor besarnya menuju ’daratan’ akhirat yang sangat luas. Yang tentu saja memerlukan bekal yang terbaik dan dalam jumlah yang cukup.

Bersiap siagalah. Siapa tahu sebentar lagi travel itu datang menjemput.

Cikarang Baru, 22 Mei 2010

Tulisan ini dibuat setelah membaca berita tentang dua orang pezina yang mati saat berzina di sebuah hotel di Depok. Mereka mati akibat zinanya yang telah dipersiapkan dengan matang. Mereka overdosis obat kuat. Mereka telah memasukkan bekal yang salah ke dalam koper perjalanan panjangnya ketika tiba-tiba mobil travel malaikat Izroil datang menjemput. Naudzubillahi min dzalika.

Senin, 19 April 2010

SEIMBANG

Ketika membeli beras kita pasti mau beras yang kita beli beratnya benar. Artinya berat anak timbangan milik pedagang beras sama dengan berat beras yang bakal jadi milik kita. Itu berarti berat beras seimbang dengan berat anak timbangan. Selanjutnya uang yang kita berikan kepada pedagang seimbang dengan barang yang kita beli.

Hidup ini memang harus dalam keseimbangan. Seimbang antara menerima dan memberi. Seimbang antara belajar dan mengajar. Seimbang antara membaca dan menulis. Seimbang antara menyerap ilmu dan beramal. Seimbang antara konsumsi perut dan konsumsi otak. Seimbang antara kecerdasan otak dan kelurusan hati.

Ada sedikit saja yang tak seimbang, maka akan njomplang. Seperti timbangan itu.
Ketika manusia silau dengan kehebatan fisik, tanpa mempertimbangkan kecemerlangan otak, maka muncullah tokoh-tokoh idola dari selebritis di film-film laga. Ketika masyarakat silau dengan keindahan fisik, tanpa memperhitungkan keindahan akhlak maka lahirlah pendapat-pendapat miring. Njomplang. Tak berimbang.

Demikian pula ketika demi perjuangan demokrasi, lalu demokrasi dipraktrekkan tanpa nilai dan norma yang sudah berakar dalam adat, budaya dan agama masyarakat maka terjebaklah kita dalam totalitarianisme.

Allah dan Rasul-Nya mengajar kita doa keseimbangan ini. Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah. Wa qinaa ’adzaa bannaar. Ini adalah permohonann untuk mendapatkan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Bukan cuma hebat di dunia tapi njomplang di akhirat. Atau sebaliknya, pasrah tak berdaya di dunia dan berharap sukses di akhirat. Atau malah lebih parah lagi: di dunia sengsara dihukum oleh manusia, di akhirat oleh Allah dikuatkan pula hukumannya.

Si Fulan pulang dari masjid setelah shalat berjamaah. Di perjalanan bertemu dengan temannya.
”Wah mulai rajin, nih, shalatnya.” tegur temannya
”Alhamdulillah, iya dong. Hidup kan harus seimbang, jangan bisnis mulu, lupa shalat.” jawab Fulan
”Aku juga shalat di rumah.” kilah temannya.
”Aku mau mengejar ketertinggalan. Shalat di masjid nilainya lebih dari 27x shalat sendirian. Ke masjid nilai keutamaannya sangat tinggi. Berpahala dan menggugurkan dosa.” Fulan menjelaskan alasannya.
Temannya tersenyum mendengarnya sambil mengangguk-angguk kecil.

Rupanya Fulan tau benar bagaimana cara cepat menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Temannya mudah-mudahan faham bahwa caranya sangat lambat untuk mencapai keseimbangan itu. 

Cikarang Baru, 4 Jumadil Ula 1430H/ 19 April 2010


Tulisan ini juga bisa dibaca di facebook 

Jumat, 02 April 2010

Sedih dan Gembira

Banjir sudah surut. Alhamdulillah. Saya gembira menyaksikannya. Warga korban banjir juga gembira. Karena mulai bisa masuk rumah lagi. Rumah yang selama 10 hari ’dipinjam’ oleh air dari Sungai Citarum.

Ada gembira ada sedih. Gembira ketika bisa kembali ke rumah. Tapi sedih juga ketika menyaksikan banyak harta benda rusak setelah 10 hari di peluk sang air. Ada pula tembok rumah yang jebol.

”Semoga ada rizki untuk memperbaiki yang rusak.” kata si pemilik rumah. Sayapun mendoakan kesabaran selalu ada dalam jiwanya dan Allah segera mengganti hartanya yang rusak dengan yang lebih baik.

Ada sedih ada gembira. Seorang Ustadz sedih rumahnya tenggelam, tapi dia gembira bisa melayani masyarakatnya menyalurkan bantuan dari berbagai komunitas. Kesedihan kini terbenam dalam kepuasannya berkhitmat kepada masyarakatnya.

Ada gembira ada sedih. Demikian juga dengan teman-teman yang selama ini setiap hari menggalang dan mengirimkan bantuan. Gembira karena banjir sudah surut. Warga bisa kembali hidup normal. Tapi sedih juga. Karena kesempatan berbagi menyenangkan orang yang ditimpa musibah telah usai. Kesempatan menabung kebaikan sudah ditutup Allah.

Ada gembira ada sedih. Gembira menggembirakan orang di pengungsian. Sedih, kemana lagi harus berbagi.

Yang paling sedih ada pula. Yaitu orang-orang yang belum sempat mengulurkan bantuan ketika tetangganya tertimpa musibah. Yang berbagi bergembira melihat orang senang. Lalu mencatatkan amal soleh di sisi-Nya. Yang terlambat berbagi bersedih gigit jari. Menyesal kenapa tak bersegera bertindak ketika mendengar berita musibah. Padahal di kantong ada beberapa ribu sisa belanja.

Maka saya faham kenapa ada perintah fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Maka saya faham ketika seorang teman bersegera menyalurkan bantuan ketika ada donatur memberikan dana lima juta rupiah.

”Besok aja gimana?” kata saya melalui fasilitas chatting di internet. Karena di depan rumah saya terlihat langit gelap pertanda bakal turun hujan lebat.
”Saya sudah belanja, Pak. Semua sudah siap di mobil.” katanya. Diapun berangkat bersegera menyelesaikan amanah yang diembannya.

Benar saja, dua jam kemudian semua barang di mobilnya sudah berpindah tangan. Di lokasi banjir, matahari terik terang benderang.

Tentu dia sangat gembira menyelesaikan amanah dengan baik. Demikian juga dengan penerima bantuan. Saya juga gembira karena saran saya tadi tak digubrisnya.

Ada sedih ada gembira. Ayo benamkan kesedihan dengan kegembiraan ber-fastabiqul khoirot.

Cikarang Baru, 2 April 2010 

Minggu, 28 Maret 2010

1000 Bungkus Perhari

Ini target posko banjir sebuah parpol di lokasi banjir di Labansari. Nasi bungkus ini untuk membantu para korban banjir. Kalau sehari makan tiga kali berarti ini hanya untuk 350 jiwa. Berapa jumlah pengungsi korban banjir di Labansari dan Bojongsari. Lebih dari seribu jiwa. Berarti posko ini hanya bisa membantu sepertiga jumlah pengungsi saja.

Artinya, bantuan masyarakat masih sangat dibutuhkan. Ada 40 parpol di negeri ini. Jika semua turun membantu maka menjadi ringanlah beban membantu warga Labansari dan Bojongsari ini. Barangkali tak usah semuanya, karena sudah banyak yang mati suri sejak pemilu selesai. Anggap saja 9 parpol yang berhasil masuk Senayan saja yang turun membantu, warga Labansari dan Bojongsari akan sangat terbantu.

Ada yang bilang, membantu korban banjir yang ikhlash saja. Jangan demi kepentingan politik. CikarangNews6 termasuk yang tak sepakat dengan komentar ini. Siapapun boleh membantu karena sekarang korban banjir memang sedang butuh bantuan. Apapun motivasinya, toh warga tak memperdulikan itu lagi. Siapapun yang memberi bantuan pasti diterima demi mengganjal dan meneruskan kehidupannya.
Jangan karena takut dibilang politis dan tidak ikhlas lalu tidak turun membantu. Justru saat ini tak ada bantuan yang politis. Karena pilkada dan pemilu masih jauh. Kini saatnya parpol menujukkan ketulusannya berbakti kepada rakyat negeri ini. Sambangi rakyat yang sedang membutuhkan parpol. Jangan hanya menyambangi pada saat mereka tak butuh. Jangan hanya menyambangi hanya pada saat petinggi parpol butuh suara yang mengantarkan mereka ke kursi empuk kekuasaan saja.

Kini saatnya membalas budi.

“Berapa biaya untuk 1000 bungkus nasi?”
“Kalau sebungkus Rp 4000,- berarti dibutuhkan Rp 4 juta rupiah perhari.” Kata ketua posko parpol berlambang bulan sabit kembar yang mengapit setangkai padi itu. Wow, jumlah yang tak sedikit. Jika tidak didukung oleh donator yang cukup dan yang ikhlas menyumbang setiap hari sulit mendapatkan dana sebesar itu.

Setiap hari juga terdapat para petugas yang standby di posko ini. Tak pernah berhenti 24 jam. Tak pernah kosong.

Ternyata membangun posko banjir tak sekedar menggelar tenda.