| Sebagian Buku Dagangan Anakku |
Rabu, 03 November 2010
Belajar Wirausaha Itu Wajib
Jumat, 26 Februari 2010
SIAPA SALAH
Selasa, 22 Desember 2009
Bisnis Anakku

Entah aku harus bilang apa.
Kemarin karena sakit, sejak subuh aku tidur lagi sampai dhuhur. Dua orang anakku berangkat ke sekolah naik ojek. Biasanya aku yang mengantarkan mereka. Kemarin tidak, bahkan aku juga gak kasih uang jajan.
Pulang sekolah anakku yang kecil, 5 tahun, membawa 2 stiker Yu-gi-oh baru untuk ditempel di bukunya. Aku paling kesel kalau dia beli stiker atau kartu-kartunya pakai uang jajannya. Bagiku jajan itu ya makanan. Tapi bagi anakku mainan itu jajan juga.
Tiung….! Sebelum marah, aku teringat dari mana dia dapat uang untuk beli stiker?
“Adnan jualan makanan, Yah!” jelas Athaya, kakaknya.
“Makanan apa?” tanyaku.
“Yang kemarin, Yah.” Jelas Athaya lagi.
O, ya aku teringat kemarin mereka menengok sepupunya di
Nah, kemarin ada sisa beberapa bungkus. Dan itulah yang dijual anak bungsuku.
“Adnan bawa tiga. Yang satu dimakan, yang dua dijual gopekan…” kini Adnan menjelaskan. Jadi dia dapat uang seribu rupiah. Dan uang itu yang dipakai untuk beli dua buah stiker.
Ini bukan yang pertama dilakukan oleh Adnan.
Dia juga pernah menjual koleksi kartu-kartunya. Awalnya karena aku dan ibunya marah karena hampir setiap hari dia jajan kartu sepulang sekolah.
“Yah, kartuku sudah gak ada lagi… tinggal ini.” Katanya suatu hari sambil menunjukkan beberapa lembar kartu saja di tangannya.
“Emang pada dikemanain?” tanyaku.
“Adnan jual!” katanya bangga.
“Berapa harganya?” tanyaku.
“Seribu dapat sepuluh.” Jawabnya.
“Lho, belinya dulu berapa?” tanyaku.
“Seribu dapat lima.” Jawabnya.
“Rugi dong!” kataku.
“Biar cepet abis…
Aku terdiam, ada senyuman sedikit dibibirku. Menjual memerlukan keberanian tersendiri. Ini sudah lebih berharga daripada harga kartu yang dijual rugi. Lagian ini belum tentu rugi, karena semuanya kartu bekas.
“Waktu jual kartu gimana caranya?” tanyaku.
“Gampang, Yah…. Bilang aja, teman-teman aku punya kartu, mau beli nggak?”
Entahlah aku mau bilang apa… senang tapi juga khawatir.
Tapi…. biarin aja, deh…
Kekhawatiran itu aku pupus. Toh, belum terjadi, ngapain dipikirin.
Maka… pagi ini anak-anakku membekali dirinya dengan beberapa teh gelas produksi kami. Adnan membawa 3 gelas. Satu gelas untuk dirinya, dua gelas untuk dijual. Athaya membawa 4 gelas. Satu untuk dirinya sendiri, satu diberikan gratis untuk teman akrabnya dan dua untuk dijual. Hasil penjualannya akan jadi uang jajan. Mereka belajar tentang tujuan yang jelas…. Agar bisa jajan, ya jualan.
Kini, dengan menulis petualangan bisnis anak-anakku ini, ….. aku tak peduli lagi Anda mau bilang apa kepada bapak ndableg seperti aku ini. Mudah-mudahan sih komentarnya positif (minimal aku akan menjadikannya positif, apapun komentar Anda).
Cikarang Baru, 5 Muharram 1431 H/22 Desember 2009
Selasa, 29 September 2009
Mati Duluan

Setelah azan maghrib, saya dan dua anak laki-laki saya Abyan (13) dan Adnan (5) pergi ke masjid dekat rumah. Dalam perjalanan seperti biasanya Adnan ngajak ngobrol.
“Ayah, berapa umur Ayah?”
“Empat puluh tiga!” jawabku cepat… yang ternyata salah.
“Empat puluh empat, Yah…” Abyan cepat mengkoreksi.
“O ya, sebentar lagi pas empat puluh empat.” Kataku.
“Kalau Ibu?” Tanya Adnan selanjutnya.
“Empat puluh satu!” jawabku sambil mempercepat langkahku, karena sebentar lagi pasti iqamah akan dikumandangkan. Abyan dan Adnan ikutan mempercepat langkahnya.
“Berarti Ayah duluan mati!” seru Adnan santai…. Tapi tetap mengagetkanku.
“Hhh… Apa?” Tanya Abyan kepada Adnan.
“Berarti Ayah duluan mati.” Ulangnya ringan.
Aku tetap mempercepat langkahku, sambil tersenyum, agak kecut. Siapa orangnya yang gak takut mati.
“Kalau Mas Abyan dan Mbak Ahsana siapa yang duluan mati?” tanyaku.
“Ya, mBak Ahsana..
“Kalau Adnan dan Mbah Athaya?”
“Ya, duluan Mbak Athaya.”
Aku tersenyum kecut dengan logika Adnan. Yang lebih tua bakal mati duluan.
“Kalau semua mati duluan, nanti Adnan kalau mati siapa yang nguburin?” godaku.
“Ya, orang-orang yang lainlah…” jawabnya nyantai.
Aku tersenyum lagi, ….sebenarnya sih menahan haru. Ketidakmengertiannya membuat dia gak sedih kalau ditinggal mati ayah ibu dan saudara-saudaranya.
“Adnan, pernah denger anak muda mati duluan?” tanyaku.
“Pernah, ada juga bayi yang mati.” Jawabnya santai, tanpa beban bahwa ini antitesis dari kesimpulannya terdahulu.
“Itu berarti umur manusia itu hanya Allah yang tahu.” Aku menjelaskan.
“
Adnan tidak menjawab…. kaki-kaki kami telah menginjakkan teras masjid. Obrolan singkat ini segera terhenti, karena sholat segera dimulai.
Setelah shalat, aku cuma bisa merenungi dialog sederhana dengan si bungsu ini. Meski tidak seratus persen benar, saya bisa menerima logika Adnan. Minimal pembenarannya adalah kalau usia masih muda ada 2 kemungkinan: akan menikmati usia tua atau mati muda. Tapi bagi orang yang sudah berusia tua kemungkinannya tinggal satu yaitu mati. Karena tak mungkin ia bakal kembali menikmati masa-masa mudanya.
Rabbi…. beri kami anak-anak yang shaleh.
Rabbi ….beri kami khusnul khatimah.
Cikarang Baru, 8 Syawal 1430H/27 September 2009
Jumat, 04 September 2009
Sedekah Berbuka (1)
Ini tampaknya menginspirasi tetangga di depan rumah saya. Bagi saya ia adalah juara satu tercepat dalam memberi takjil bagi tetangganya. Sebenarnya bukan cuma di bulan Ramadhan, bulan-bulan lain Ibu Fulanah ini juga rajin bagi-bagi makanan meskipun hanya semangkok sayur asem.
Ya…. Dia yang tercepat!
Karena dia sudah berlatih pada bulan-bulan sebelumnya!
Pada hari pertama sekitar jam empatan sudah ada semangkok bubur ketan hitam dikirim ke rumah. Alhamdulillah…. Semoga Allah memberi ganjaran yang berlipat ganda. Semoga puasa saya diterima Allah, mendapat pahala dan dia juga mendapatkannya sebesar itu tanpa mengurangi pahala saya. Seperti janji Rasulullah. Subhanallah.
Hari kedua….. tetangga yang lain lagi mengirim segelas es buah. Sekitar jam limaan.
Nikmat rasanya, saat dibutuhkan tiba-tiba mendapatkannya. Anak-anak saya, Athaya dan Adnan, yang sedang belajar puasa menampakkan benar kegembiraan itu, meskipun saat berbuka masih satu jam lagi. Apalagi awal-awal puasa ini Ibunya memang sedang tidak di rumah karena ikut diklat guru di luar
Oh… indahnya ajaran Rasulullah. Beri-beri-beri. Tak usah malu berapapun. Bagi-bagi-bagi. Secepat angin yang bertiup.
Ketika Rasulullah menyampaikan ajaran ini, seorang sahabat berkata bahwa tidak semua sahabat berkemampuan memberi sedekah berbuka. Maka Rasulullah memberikan jawaban yang menggembirakan semua orang “walaupun hanya dengan sebiji kurma. Walaupun hanya dengan seteguk air.”
Hari berikutnya….
Saya menerimanya dengan doa tulus, agar dia mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Karena sang tetangga melaksanakannya demi patuhnya kepada Rasulullah SAW.
“Ayah, kapan kita bagi-bagi buka puasa?” tiba-tiba anak saya Athaya (9 th) mengingatkan. Sebelum Ramadhan memang dia melihat saya mengetik rencana kerja selama Ramadhan. Diantaranya ada poin “sedekah berbuka”.
“Ya, ayah sedang menunggu kurmanya. Sudah dipesan ke teman Ayah. Nanti kalau ada, Ayah ditelpon.”
Sampai dua hari telpon yang saya tunggu belum juga ada. Athaya tampaknya sudah ngebet. Katanya, “gimana dong, Ayah gak melaksanakan programnya sendiri.”
“Oke, besok kita siapkan.” Jawab saya semangat, karena disemangati Athaya. Kebetulan besok juga ada jadwal kirim takjil ke masjid.
Maka sore itu saya membeli 6 buah kelapa muda, beli gelas plastik, tutupnya dan sendok plastik. Yang praktis-praktis saja. Kelapanya juga sudah dipecah oleh penjualnya. Sudah berpindah ke kantung plastik. Jadi sampai di rumah tinggal nuang-nuangin ke gelas plastik.
Akhirnya jadilah 20 gelas es kelapa muda. Senang sekali akhirnya bisa mengantar sedekah berbuka ke masjid. Anak-anak juga tampak sangat menikmati kegiatan ini.
Cikarang Baru, Ramadhan 1430H.
Terima kasih kepada para tetangga dan anak-anakku yang telah mengingatkan amalan mulia ini.