Tiga hari sudah aku meninggalkan Cikarang. Kangen Ibu yang sendiri di Surabaya, Senin lalu aku meluncur ke Surabaya. Hari ini hari ke tiga. Giliran kangen sama anak-anak dan istri.
Karena aku punya murid bimbel di EMC, maka aku serahkan ke anak-anakku yang pas libur sekolah. Sambil ngajarin mereka betapa nikmatnya mengajar itu.
Mungkin karena nerveous maka anakku selalu SMS ketika ada soal yang gak bisa dimengerti.
Siang ini untuk menyapa mereka aku mampir ke warnet di Kebraon. Kubuka facebook dan kudapati anakku sedang online ketika tiba-tiba anakku menyapa lewat chatting box. Tanya-tanya kabar, melepas kangen sampai ngomongin matematika.
Berikut ini chattingan kami:
Ooh... di warnet sejam cukup lumayan untuk tombo kangen.
Kamis, 06 Januari 2011
Sabtu, 01 Januari 2011
Sampah Tahun Baru
Sebenarnya ini tidak hanya terjadi hari ini 1 Januari 2011.
Setiap malam Ahad, para muda-mudi menghabiskan malam-malamnya di jalur hijau sepanjang Jalan Kedasih Raya ini. Tak hanya muda-mudi yang berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, tapi juga bapak-ibu-anak yang bosen di rumah.
Di tempat ini meraka ngobrol, main gitar, pacaran -entah ngapain- dan makan minum. Lalu sisa makanan dan bungkus makanan ditinggalkan begitu saja. Esoknya jadi pemandangan yang tidak mengenakkan mata memandang. Sepanjang perjalanan dari Ruko Anggrek sampai Wisma Mattel, sampah ini menjadi hiasan buruk jalur hijau.
Dan tampaknya pengembang memfasilitasi ini. Buktinya tak ada teguran, tak ada peraturan. Yang ada malah disediakan tukang sapu yang membersihkan sampah mereka pada pagi hingga siang keesokan harinya.
Puncaknya adalah pada malam tahun baru tadi malam.
Para pemuda dan keluarga yang memperingati pergantian tahun ini, menghabiskan seluruh jam-jamnya sejak jam delapan malam di tempat ini. Mereka meluapkan kegembiraan -entah apa yang digembirakan- di tempat ini. Dan mereka meluapkan syahwatnya (astaghfirullah) juga di sini.
Saya sendiri kemarin bersama keluarga sedang menengok ibu mertua di Tangerang. Jam 10 malam mau masuk ke Cikarang Baru melalui pintu Jababeka tidak diperkenankan. Hanya motor yang boleh masuk. Saya diarahkan masuk melalui pintu 10 di Kalimalang.
Seusai mabit di Masjid Mekar Indah, seorang Ustadz yang mengimami Qiyamul Lail, yang tiba di tempat ini sekitar jam 2 malam mengatakan, bahwa beliau menyaksikan banyak motor di pinggir jalan, tapi orangnya entah di mana. Dan di sepanjang jalur hijau banyak remaja muda-mudi sedang asyik dibuai nafsu syetaniahnya.
Membaca status facebook seorang teman: "Tahun baru, berarti sisa umur kita semakin sedikit. Semoga sisa usia ini lebih barokah."
Timbul pertanyaan: Pesta semalam di manakah letak keberkahannya? Pasti tidak ada. Namun, kenapa harus disambut dengan tiupan terompet, tepuk tangan, ketawa cekakaan, menghabiskan waktu percuma, apalagi sampai berkhalwat.
Siapakah yang sukses meninggalkan tahun lama dan memasuki tahun baru. Kenapa harus dirayakan dengan gegap gempita, kembang api, petasan dan tiupan terompet, juga band dan dangdutan?
Banyak diantara kita ingin hidup berkah, bergelimang rahmat Allah. Tapi kenapa justru mengawali tahun baru ini dengan menyia-nyiakan waktu untuk berbagai kegiatan yang justru menjauhkan diri dari rahmat Allah?
Saya gak habis pikir, kenapa saudara-saudaraku di sepanjang jalan ini sedemikian mudahnya melepaskan akal sehatnya demi sebuah kegiatan yang tak jelas manfaatnya?
Ya, Allah.... jauhkan kami dari yang demikian.
Ya Allah, bimbing kami menjalani setiap detik sisa-sisa waktuku di kehidupan fana' ini bermakna dan produktif mendulang pahala dan kasih sayang-Mu, sehingga -dengan rahmat-Mu, ya Allah- itu bisa menjadi bekal kehidupan abadi yang penuh kenikmatan di akhirat nanti.
Amiin Ya Rabbal 'Alamin.
Setiap malam Ahad, para muda-mudi menghabiskan malam-malamnya di jalur hijau sepanjang Jalan Kedasih Raya ini. Tak hanya muda-mudi yang berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, tapi juga bapak-ibu-anak yang bosen di rumah.
Di tempat ini meraka ngobrol, main gitar, pacaran -entah ngapain- dan makan minum. Lalu sisa makanan dan bungkus makanan ditinggalkan begitu saja. Esoknya jadi pemandangan yang tidak mengenakkan mata memandang. Sepanjang perjalanan dari Ruko Anggrek sampai Wisma Mattel, sampah ini menjadi hiasan buruk jalur hijau.
Dan tampaknya pengembang memfasilitasi ini. Buktinya tak ada teguran, tak ada peraturan. Yang ada malah disediakan tukang sapu yang membersihkan sampah mereka pada pagi hingga siang keesokan harinya.
Seusai mabit di Masjid Mekar Indah, seorang Ustadz yang mengimami Qiyamul Lail, yang tiba di tempat ini sekitar jam 2 malam mengatakan, bahwa beliau menyaksikan banyak motor di pinggir jalan, tapi orangnya entah di mana. Dan di sepanjang jalur hijau banyak remaja muda-mudi sedang asyik dibuai nafsu syetaniahnya.
Membaca status facebook seorang teman: "Tahun baru, berarti sisa umur kita semakin sedikit. Semoga sisa usia ini lebih barokah."
Timbul pertanyaan: Pesta semalam di manakah letak keberkahannya? Pasti tidak ada. Namun, kenapa harus disambut dengan tiupan terompet, tepuk tangan, ketawa cekakaan, menghabiskan waktu percuma, apalagi sampai berkhalwat.
Siapakah yang sukses meninggalkan tahun lama dan memasuki tahun baru. Kenapa harus dirayakan dengan gegap gempita, kembang api, petasan dan tiupan terompet, juga band dan dangdutan?
Banyak diantara kita ingin hidup berkah, bergelimang rahmat Allah. Tapi kenapa justru mengawali tahun baru ini dengan menyia-nyiakan waktu untuk berbagai kegiatan yang justru menjauhkan diri dari rahmat Allah?
Saya gak habis pikir, kenapa saudara-saudaraku di sepanjang jalan ini sedemikian mudahnya melepaskan akal sehatnya demi sebuah kegiatan yang tak jelas manfaatnya?
Ya, Allah.... jauhkan kami dari yang demikian.
Ya Allah, bimbing kami menjalani setiap detik sisa-sisa waktuku di kehidupan fana' ini bermakna dan produktif mendulang pahala dan kasih sayang-Mu, sehingga -dengan rahmat-Mu, ya Allah- itu bisa menjadi bekal kehidupan abadi yang penuh kenikmatan di akhirat nanti.
Amiin Ya Rabbal 'Alamin.
Kamis, 18 November 2010
Qurban, Sate dan Gule Kambing
| Semoga ketaqwaan kita sampai kepada Allah |
Idul Adha identik dengan daging kambing dan sapi ataupun unta. Maka di facebook banyak yang statusnya berisi tentang sate, tongseng dan gule kambing. Pesta makan-makan dan bakar-bakar. Panggang kepala sapi dan kambing. Sop buntut dan kikil.
Kalau ada yang bernuansa lain, itu adalah tentang kepedulian sosial dengan membagi-bagikan daging kurban ke fakir miskin, yatim piatu dan para duafa lainnya.
Sebentar .... saya berhenti menulis dulu. Di TV sedang ada berita orang-orang miskin berebut daging kurban di depan sebuah kantor sebuah partai politik. Para perempuan tua dan anak-anak tergencet. Di sana-sini hiruk pikuk suara tangis. Sementara dari belakang sana ratusan massa terus mendorong menggencet orang-orang yang sudah berada di depan pagar tinggi yang cuma dibuka 80 cm dan dijaga satpam. Wajah kemiskinan di negeriku nampak nyata pada saat-saat seperti ini.
Meski sayangnya belum ketemu cara yang memanusiakan, Idul Adha jadi identik dengan kegiatan sosial. Aspek ruhiyahnya terdegrasi. Aspek hablumminallah-nya terpinggirkan. Tertutup dengan aspek sosial, kepedulian dan silaturahim warga sebuah perumahan. Tidak salah memang, hanya saja makna ruhiyahnya yang palig penting kok justru terlupakan.
Padahal penyembelihan Ismail a.s. tak sekedar pengorbangan, tapi juga kepatuhan kepada Allah. Kepatuhan kepada Allah adalah segala-galanya. Mengalahkan cinta kepada anak. Mengalahkan cinta Ibrahim a.s. kepada anak satu-satunya –saat itu, yaitu Ismail.
Ketika cinta kepada anak dan istri berlebihan, sering mengalahkan cinta kita kepada Allah. Ketika cinta kepada harta berlebihan, sering menyita waktu kita untuk tak bersimpuh di haribaan Allah. Kecuali pada sisa-sisa waktu yang sangat sedikit. Ketika harta menjadi tujuan, maka rambu-rambu Allah dan Rasul-Nya pun tak dihiraukan. Ketika kedudukan menjadi sasaran, sering cara apapun dihalalkan. Uang menjadi tuhan baru.
Ketika dalam kondisi demikian, tiba-tiba Allah memanggil, adakah kita meninggalkan semua itu demi memenuhi panggilan-Nya? Ketika kita sedang asik dan fokus pada proyek kita, adakah kita mau meninggalkannya demi memenuhi rambu-rambu-Nya?
Tak ada sekutu bagi-Nya.
Tak ada yang lebih penting selain panggilan-Nya.
Tak ada yang berhak dituhankan selain Dia.
Itulah sejatinya makna berkurban yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s. Tauhid, mengesakan Allah. Dialah satu-satunya yang patut dipatuhi, dicintai, dirindui. Hanya Allahlah yang kepadanya kita memasrahkan diri kita untuk didominasi oleh-Nya. Sehingga kita meninggalkan apapun yang dilarang-Nya. Dan mengerjakan apapun yang diperintahkan-Nya....... Ya, apapun!
Dengan pemahaman itulah maka kita maklum kenapa Nabi Ibrahim a.s. melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail a.s. Karena dia mau menyembelih kecintaannya kepada anaknya demi kecintaannya kepada Allah saja.
Dengan pemahaman itulah kita bisa memahami kenapa Ismail a.s. menyerahkan dirinya dan mempersilakan ayahnya Ibrahim a.s. untuk menyembelih dirinya demi memenuhi perintah Allah. Karena dia mau memupus kecintaannya kepada diri sendiri, demi kecintaannya kepada Allah saja.
”Ayah, engkau akan saksikan, insya Allah aku termasuk orang yang sabar.” katanya. Sabar dalam menjalankan perintah Allah. Seberat apapun. Betapapun iblis, setan jin dan manusia menghalanginya.
Jadi Idul Adha bukan sekedar berbagi daging kepada para duafa. Apalagi pesta sate, tongseng, dan gulai kambing. Idul Adha adalah kembali mengesakan Allah. Tauhid. Demi memantaskan wajah kita menjumpai wajah-Nya.
Fa man kaana yarju liqo-a robbihi, fal ya’mal amalan sholihan wa la yusyrik bi ’ibaadati robbihii akhada. ”Barangsiapa ingin berjumpa dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal sholeh dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya.”
Cikarang Baru, 17 November 2010/11 Dzulhijjah 1431 H
Selasa, 09 November 2010
Menunggu Tapi Tak Membosankan
Menunggu itu membosankan. Kita sering mendengar kalimat ini. Menunggu itu paling gak enak. Juga kalimat ini. Makanya kita paling kesel kalau janjian sama teman pada jam yang sudah ditetapkan, lalu sang teman tak kunjung datang.
”Ayo berangkat, lebih baik menunggu daripada ditunggu.” demikian sering istriku berkata jika punya janji dengan seseorang. Hihihi... kalau kita paling gak enak menunggu, eh, dia malah bilang lebih baik menunggu daripada ditunggu. Rupanya jalan berfikirnya: kan menunggu itu nyebelin, makanya jangan bikin orang sebel gara-gara capek menunggu kita. Berarti kita dong nanti yang sebel, karena nungguin dia yang tak kunjung tiba.
Memang idealnya paling enak kalau dua-duanya on time. Jadi gak ada yang ditunggu, gak ada yang menunggu.
By the way, apa iya sih menunggu itu selalu menyebalkan? Kok , istri saya mau ya disebelin dengan aktivitas menunggu.
Ternyata ada juga menunggu yang tak menyebalkan. Ada beberapa aktivitas kita yang tak bisa menghindar dari yang namanya menunggu ini. Saat ke bank, saya sering sudah prediksi kalau saya pasti akan ngantri panjang. Maka sejak dari rumah saya selalu menyiapkan buku bacaan, yang kira-kira kalau dibaca sejam dua jam gak habis.
Maka ketika ngantri di bank, saya bisa membaca puluhan halaman buku. Dan tiba-tiba saya sudah berdiri di depan teller dan mendengar sapaan ramah Bu Teller, ”Silakan, Pak.”
Ketika menjemput istri dari rumah bekam, saya juga menyelipkan buku di mobil. Saya ingat pesan istri, ”Dari pada ditunggu, mendingan menunggu.” Daripada istri nungguin jemputan, lebih baik saya yang mengalah menunggu dia di ruang tunggu rumah bekam.
Dan selama menunggu itu saya bisa membaca beberapa halaman buku.
Sering saya melihat dalam antrian panjang di sebuah bank. Kok, bisa ya banyak orang yang berdiri satu jam atau lebih tidak berbuat apa-apa selain menunggu kakinya bergerak selangkah demi selangkah. Sesekali sih memang ada menerima telpon atau kirim SMS. Tapi lebih banyak bengongnya daripada beraktivitas. Tapi di wajahnya tak ada raut kebosanan berdiri menunggu. Entah dalam hatinya.
Meskipun demikian, ketika ditanya, enakan mana ngantri atau langsung dilayani? Pasti dia memilih langsung dilayani. Berarti ada kebosanan selama dia menunggu. Sayangnya beberapa aktivitas kita tidak bisa lepas dari yang namanya menunggu. Di rumah sakit kita menunggu, di kantor Samsat juga menunggu, di Posyandu juga menunggu, di loket pembayaran listrik nunggu juga, mau nyoblos pilkada juga nunggu giliran, menunggu kereta dan penerbangan yang sering ngaret jamnya.
Pengendara mobil dan motor juga suka menunggu kereta lewat, menunggu lampu hijau. Penjaga warung menunggu pembeli, karyawan menunggu gajian dan THR dan lain-lain.
Jadi sebenarnya membunuh kebosanan itulah yang harus dilakukan. Bukan menghindari yang namanya menunggu itu sendiri, karena memang tak mungkin. Bahkan hidup kita ini sebenarnya juga adalah penantian panjang menuju pertemuan dengan Allah sang Khaliq. Makanya dalam penantian ini kita harus pandai-pandai mengisi waktu kita, sehingga tidak bosan.
Ketika bosan dan kita ingin hindari aktivitas menunggu itu, maka bisa jadi kita bunuh diri demi membunuh kebosanan itu. Dan contoh ini sangat banyak. Orang bosan hidup, karena capek menunggu untuk jadi kaya dan sukses, lalu bunuh diri. Orang bosan menunggu jadi pejabat, lalu pake jalan pintas. Dan ketika gagal, dia bunuh diri karena emoh menunggu lagi.
Coba kalau masa penantian ini kita gunakan untuk aktivitas yang bermanfaat. Pasti hidup ini jadi indah. Tentu tak hanya manfaat sesaat, tapi manfaat jangka panjang. Tak hanya panjang, tapi sangat panjang. Tak hanya manfaat selama hidup di dunia, tapi sampai akhirat.
Cikarang Baru, 9 November 2010
Choirul Asyhar
*Sambil menulis catatan ini, terngiang ayat Allah di QS. Al Kahfi : 110
Rabu, 03 November 2010
Belajar Wirausaha Itu Wajib
| Sebagian Buku Dagangan Anakku |
Belajar wirausaha bagi anak-anak menurutku adalah wajib. Karena itu anak-anakku harus belajar wirausaha. Belajar tidak berarti harus baca buku teori yang bejibun itu. Belajar berarti tidak harus dapat sertifikat. Belajar artinya langsung praktek. Karena praktek lebih nyata dari pada teori yang baru bisa jadi imajinasi.
Maka ketika anakku gemar membaca buku cerita anak-anak terbitan Mizan. Maka ketika aku tahu ternyata teman-temannya juga menggemari buku ini. Maka ketika anakku merengek minta dibelikan terbitan terbaru buku cerita itu, aku katakan:
”Ayo jualan buku. Setiap laku sepuluh kamu dapat hadiah 1 buku.”
Anakku ternyata menyambut antusias. ”Gimana caranya?” tanyanya.
”Ayah harus menyiapkan buku-bukunya dulu, dong?” lanjutnya.
”Tak perlu, kamu bawa katalog buku. Kamu tawarkan ke teman-temanmu.” saranku.
Alhamdulillah, aku punya teman yang punya toko buku. Aku minta katalog dari temanku itu. Maka jualan bukupun dimulai. Bahkan sebelum katalog ada di tangan anakku!
Rupanya anakku yang juga aktifis facebook sudah banyak mengupload gambar-gambar cover buku yang mau dijual di wall-nya. Dia download gambar-gambar itu dari facebook penerbit. Memang belum ada status yang isinya menjual. Adanya hanya menunjukkan kesukaannya kepada buku-buku itu. Teman-temannyapun memberi komentar. Isinya juga bukan untuk membeli tentu saja. Tapi menunjukkan like dan keinginannya untuk membaca buku itu.
Maka ketika dia mengumumkan jualan buku –meskipun tanpa katalog- sudah banyak teman-temannya yang pesan. Kini giliranku yang harus merogoh uang untuk membelikannya di toko buku temanku. Anakku sudah memulai kenapa aku tidak mensupport memodalinya. Apalagi pembelinya sudah ada. Hari ini dibeli, esok atau lusa sudah jadi uang lagi, pikirku.
Maka dalam sepekan, anakku sudah dapat 1 buku gratis. Karena dia sudah menjual 12 buku.
”Berarti kalau aku jual 8 lagi, aku dapat 1 buku gratis lagi, Yah?” tanyanya.
”Iya, dong.” Dan tanpa menunggu sepekan kemudian, anakku sudah dapat 1 lagi buku gratis. Dan sebentar lagi, kayaknya dia bakal dapat buku gratis ketiganya.
Wow, fantastik.
”Hari ini jangan bawa buku dagangan.” kata Ibunya tadi pagi.
”Akan ada razia di sekolah. Selain buku sekolah, akan disita.” lanjutnya. Ibunya memang seorang guru sekolah yang bernaung di yayasan yang sama dengan sekolah anakku. Mungkin Ibunya dapat bocoran.
Sambil menyelesaikan tilawah Quran-ku pagi ini, aku geleng-geleng kepala mendengarnya. Di dalam hati aku berdoa semoga peraturan sekolah ini tidak membunuh benih-benih wirausaha yang kusemai pada diri anakku yang kini sudah mulai bertunas itu.
Cikarang Baru, 3 November 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
"KOMEDI"
Inilah yang banyak terjadi di negeri ini. Maka pantaslah Indonesia disebut sebagai panggung komedi. Banyak hal lucu terjadi di negeri ini. Lucu sekaligus memprihatinkan. Kalau tidak mau menyebut menyedihkan.
Mau mencari ilmu di internet, nyangkut pula virus perusak komputer. Mau nyari gambar masjid, muncul pula gambar aurat perempuan. Mau pengen pinter baca koran, dapatnya penyesatan opini. Mau nonton berita di TV dapat pula iklan sinetron picisan. Mau kasih hiburan anak dengan film kartun, ternyata tokoh kartunnya ngomong jorok. Pagi TV menyajikan pengajian, malam mengobrak-abrik syahwat penonton.
Rasa-rasanya berbuat baik menjadi sangat sulit di negeri ini. Mau bersedekah, ternyata ditipu lembaga fiktif. Mau memberi tumpangan motor, motorpun raib direbut si penumpang. Mau membantu biaya sekolah sang anak, uangnya dibelikan rokok bapaknya.
Rasanya hidup sehat menjadi sulit di negeri ini. Makan tempe yang kaya protein dan asam amino esensial ternyata kedelenya mengandung bleaching agent. Makan tahu yang juga sehat karena berbahan baku kedele, ternyata mengandung formalin. Minum jus dalam kemasan, yang katanya asli ternyata cuma minum air plus rasa dan flavornya doang. Makan ikan karena pengen mendapatkan asupan omega 3 ternyata justru kemasukan bahan pengawet.
Demikian juga dengan mencari nafkah. Mau jadi pegawai negeri yang harusnya penghasilannya halal, jadi haram karena masuknya harus nyogok. Selain itu gajinya juga berasal dari pajak yang sebagiannya dipungut dari bisnis maksiat. Mau jadi pegawai swasta yang seharusnya halal, ternyata pemiliknya juga punya pabrik bir dan aktif berjudi yang bisa jadi sesekali mensubsidi gaji karyawan pada saat-saat diperlukan.
Para pejabat juga lucu-lucu. Katanya mau memberantas korupsi, tapi tetap menerima setoran dari bawahannya. Katanya mengucurkan dana pendidikan, tapi memotong10% untuk kantongnya sendiri. Katanya dana serifikasi guru sudah ada, tapi masih disimpan nongkrong lama di rekening bendahara. Katanya tak mau menerima suap, tapi mendiamkan bawahannya melaksanakan praktek suap-menyuap.
Nafsu menyedot uang rakyat juga besar sekali. Ketika banyak sarjana di wisuda, pemerintah tak bisa menyediakan lapangan kerja. Maka ketika sarjana yang capek nyari kerja itu berhasil membuka lapangan kerja dengan inisiatif sendiri, dana sendiri, jatuh bangun sendiri, pemerintah baru datang Bukan untuk memberi selamat dan semangat, tapi memungut pajak dan uang preman.
”Alangkah Lucunya (negeri ini)”, maka pantas Deddy Mizwar membuat film ini. Seorang pengangguran harus menelan pahitnya kenyataan ketika menyaksikan sendiri komplotan pencopet yang tanpa beban mengambil uang orang lain dari kantongnya tanpa disadari. Tanpa beban –karena dilakukan dengan santai, lihai, akrobatik dan ”menghibur” dirinya sendiri. Sementara si sarjana pengangguran ini sudah dua tahun belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Ketika gemas, si sarjana menangkap si pencopet.
”Enak aja mengambil punya orang. Bukankah kamu bisa minta baik-baik?!” hardik si sarjana sambil memiting si pencopet.
”Saya kan pencopet, Bang. Bukan peminta-minta.” jawab pencopet kalem. Jawaban kalem inipun menusuk keprihatinan si sarjana. Maka dengan pelahan dilepasnya si pencopet.
Masya Allah, profesional juga si pencopet. Dia menghayati pekerjaannya makanya dia tidak mau melakukan yang lain seperti meminta-minta misalnya. Tujuannya adalah mencopet! Apapun dilakukan demi mencopet. Ada yang berpura-pura menjadi anak sekolah, ada yang berpura-pura jadi ABG ngabuburit di mall, ada yang nyamar jadi anak-anak pasar yang lalu lalang. Semua punya tujuan yang sama: mencopet.
Maka ketika si sarjana, pusing nyari pekerjaan gak dapat-dapat, dia mengajukan diri menjadi konsultan manajemen bagi kelompok copet itu. Dia mengelola keuangan para pencopet sehingga kelompok copet ini bisa punya tabungan dan aset sebuah sepeda motor sebagai kendaraan operasional si sarjana. Tak hanya itu si sarjana ternyata juga berhasil memberi pekerjaan dua orang temannya yang selama ini juga menganggur. Seorang sarjana pendidikan ditugasinya mengajar calistung para pencopet itu. Juga seorang anak kyai yang ditugasi mengajarkan agama bagi para pencopet itu.
Untuk jerih payah mereka, ketiga anak muda itu mendapatkan gaji berupa komisi 10% dari uang hasil kerja komplotan pencopet itu.
Pekerjaan mereka halal, tapi sayang digaji dengan uang haram. Gambaran dalam film ini sangat hitam putih, sehingga kita mudah melihatnya Tapi bagaimana dengan yang abu-abu, dan ini banyak terjadi di negeri ini. Pekerjaannya profesional dan halal, tapi caranya bisa saja menjadikan pekerjaan halal itu menghasilkan uang haram.
Saya tak hendak menyebutkan contoh, karena jumlahnya bertebaran di sekitar kita. Bahkan meskipun sebagiannya abu-abu, jika kita menggunakan kaca mata hati yang jernih, dia akan tampak hitam-putih.
Cikarang Baru, 21 Oktober 2010
Catatan ini dibuat untuk memperingati 1 tahun rezim SBY-Budiono, dan juga 6 tahun kepemimpinan SBY di negeri ini. Catatan ini juga bukan untuk mereka, karena kecil kemungkinan mereka membacanya. Apalagi ”bacaan” dari Sabang sampai Merauke sudah tampak nyata. Bagaimanapun, semoga catatan ini bermanfaat buat semua calon pemimpin, termasuk kita sebagai peminpin rumah tangga.
Selasa, 19 Oktober 2010
KKPK
Kecil-Kecil Punya Karya. Itu kepanjangan dari KKPK. Buku serial terbitan Dar!Mizan.
Isinya cerita anak-anak dan remaja ABG. Anak-anak banyak tergila-gila dengan buku ini. Termasuk anakku yang klas 5 SD.
Sukses dengan KKPK, penerbit yang sama menerbitkan serial Pink Berry Club. Kalau KKPK untuk anak usia 8 – 12 tahun, PBC untuk anak remaja di atas 12 tahun. Meskipun demikian anak-anak usia di bawahnya tetap menyukainya. Termasuk anakku.
Yang menarik adalah buku-buku ini menanamkan nilai-nilai kebaikan. Berarti kebaikan pun laku dijual jika dikemas dalam kemasan kreatif dan indah. Tidak seperti buku komik Jepang terbitan sebuah penerbit besar yang banyak menjual dan mengumbar pergaualan bebas dan pornografi agar digandrungi anak-anak remaja ABG, dan anehnya beredar bebas di jaringan toko buku terbesar di Indonesia.
Kembali ke KKPK.
Beberapa hari ini anakku selalu merengek minta dibelikan KKPK dan PBC. Katanya untuk koleksi bukunya. Dari isinya insya Allah tak mengkhawatirkan. Tapi dari segi dompetku tentu mengerikan. Maka sambil lalu aku mengatakan bahwa kalau dia bisa jual 10 buku, aku akan kasih 1 gratis untuk menambah koleksinya. Itung-itung mengenalkan dia etos kerja sebelum memperoleh sesuatu.
Tuingg....!
Gayung bersambut. Segera anakku informasikan ke teman-temannya bahwa dia jualan KKPK dan PBC. Awalnya teman-temannya minta lihat-lihat dulu beberapa judul. Tentu saja tak bisa kupenuhi. Aku tak mungkin menyediakan barang dagangan di rumah. Lalu anakku browsing internet dan dia mendapatkan banyak gambar cover buku-buku itu. Di uploadnya di akun FB-nya. Temannya mulai pesan. Dicatatnya buku apa dipesan siapa.
Lalu terkumpul 12 judul, dalam waktu kurang dari 3 hari.
Segera aku pesan buku-buku itu ke teman yang punya bisnis buku. Dua hari kemudian buku-buku itu sudah di tangannya. Kulihat matanya berbinar penuh semangat berangkat sekolah hari itu. Meskipun tas ranselnya jadi tampak lebih berat daripada biasanya. Sementara di tangannya juga masih menenteng tas mukena.
”Hati-hati pegang uangnya.” kataku saat mengantarnya sekolah.
”Hanya yang bayar yang dikasih buku, ya Yah?” katanya mengulangi ajaranku.
Maka dalam 3 hari habislah buku-buku itu. Dan sebelum habis, anakku sudah mencatat lagi 13 pemesan. Dan kini tinggal 3 buku di tangan karena temannya belum bawa uang. Tentu saja setelah dikurangi buku bonus miliknya. Untuk mengapresiasi prestasinya ini saya menyebutnya dengan KKPK pula. ”Apa Yah?” tanyanya. ”Kecil-Kecil Punya Kios.” jawabku.
Kini anakku semangat menjajakan buku-bukunya. Tentu karena semakin lama semakin banyak yang tau, dan semakin banyak yang datang sendiri memesan buku. Tak hanya anak-anak, beberapa guru juga mulai tau. Apalagi setelah buku catatan penjualan anakku diminta (baca: disita) wali kelasnya.... Untuk yang terakhir ini sayangnya tidak menggembirakan. Karena bukan pujian dan dorongan semangat yang didapat, tapi bahkan kabarnya akan ada peringatan. Karena di sekolah murid tidak boleh berjualan.
Saya sedang berfikir mencari jalan keluar menyalurkan minat ini....
Ada saran?
Cikarang Baru, 19 Oktober 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)


